Ahli Psikologi Forensik Sebut Kasus Sopir Ditembak Polisi Mirip Tragedi Ferdy Sambo
SB, PALANGKA RAYA – Ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyebut kasus penembakan oleh mantan anggota Polresta Palangka Raya, Anton Kurniawan, memiliki kemiripan dengan tragedi pembunuhan Brigadir J yang melibatkan Ferdy Sambo dan Richard Eliezer.
Hal itu ia sampaikan usai menghadiri sidang kasus penembakan oleh mantan anggota polisi, Anton Kurniawan, di Pengadilan Negeri Palangka Raya, Kamis (24/4/25/2205).
“Di ruang sidang tadi seketika saya teringat pada situasi antara Ferdy Sambo dan Richard Eliezer. Ketika seseorang melakukan penembakan dan disebut itu atas perintah atau tekanan dari pihak lain yang tidak terelakkan,” ujar Reza.
Menurut Reza, dalam hubungan yang timpang secara kekuasaan, individu yang lebih lemah cenderung patuh terhadap perintah, terlebih jika yang memberi perintah memiliki otoritas dan membawa senjata.
“Apalagi senjata itu digunakan hingga menyebabkan kematian. Tekanan psikologis dari otoritas yang membawa senjata akan berlipat ganda,” jelasnya.
Reza menambahkan, dari sisi psikologi forensik, menyaksikan langsung peristiwa penembakan dapat memicu trauma dan refleks untuk melarikan diri.
“Tidak ada orang yang ingin menyaksikan pembunuhan. Jika seseorang melihat kejadian seperti itu, secara refleks otak hanya berpikir untuk kabur,” ujarnya.
Ia pun mencontohkan kembali kasus pembunuhan Brigadir J. Menurutnya, meskipun Richard Eliezer akhirnya menjauh dari pengaruh Ferdy Sambo, tekanan psikologis yang ditimbulkan tetap membekas dan memengaruhi tindakannya.
Kasus ini bermula saat mantan polisi, Anton Kurniawan, menembak Budiman Arisandi seorang supir ekspedisi di dalam mobil yang dikemudikan Muhammad Haryono pada November 2024 lalu. Setelah korban tewas, jasadnya dibuang dan mobilnya dijual.
Reza mengatakan, ia menyerahkan sepenuhnya kepada kuasa hukum untuk mengaitkan temuan psikologis tersebut dengan strategi pembelaan di persidangan. (sb)