ILUSTRASI
SB, SAMPIT - Tekanan ekonomi global mulai dirasakan petani di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sejumlah komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, dan rotan belum menunjukkan kenaikan harga, sementara biaya operasional justru meningkat akibat lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan kondisi di lapangan, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani masih bertahan di kisaran Rp2.775 per kilogram dan belum mengalami perubahan signifikan selama dua bulan terakhir.
Hal serupa juga terjadi pada komoditas karet yang masih berada di angka Rp11 ribu per kilogram, serta rotan basah yang stagnan di kisaran Rp4 ribu per kilogram.
Di sisi lain, harga solar industri dan Dexlite dilaporkan mengalami kenaikan cukup tajam, mencapai 30 hingga 40 persen di beberapa wilayah. Kenaikan ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dunia serta kebijakan distribusi BBM tertentu.
Seorang petani sawit sekaligus pengepul di Kecamatan Pulau Hanaut, Yono, mengaku kondisi tersebut semakin menekan keuntungan petani.
“Harga sawit belum naik, bahkan cenderung turun sedikit. Sementara solar di pengecer sekarang mahal, jadi keuntungan makin tipis,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Keluhan serupa disampaikan Sudir, petani karet asal Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga. Ia menyebut harga karet masih belum bergerak naik, ditambah kondisi cuaca yang kurang mendukung.
“Per kilo masih Rp11 ribu, sementara hujan juga sering turun, jadi produksi ikut terganggu,” katanya.
Sementara itu, petani rotan bernama Riya juga merasakan dampak kenaikan biaya operasional, terutama untuk transportasi menuju lokasi pengambilan rotan di hutan.
“Harga rotan memang tidak berubah, tapi biaya ke hutan pakai perahu mesin naik karena solar mahal. Banyak pemungut rotan yang memilih berhenti sementara,” ungkapnya.
Para petani berharap adanya solusi dari pemerintah, baik melalui kenaikan harga komoditas maupun kemudahan akses BBM dengan harga lebih terjangkau untuk mendukung usaha perkebunan rakyat.
“Kami tidak minta banyak, yang penting tetap bisa panen dan tidak merugi,” pungkasnya. (f1/sb)