Trenggiling dan Kucing Hutan Ditemukan Mati di Lokasi Karhutla
SB, SAMPIT – Kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tak hanya mengancam lahan dan aktivitas warga. Satwa liar yang berada di kawasan terdampak juga ikut menjadi korban.
Trenggiling, kucing hutan hingga lutung abu-abu atau hirangan dilaporkan ditemukan mati di sejumlah lokasi terdampak karhutla. Temuan tersebut menjadi perhatian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit.
Kepala BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan pihaknya menerima penyerahan dua ekor satwa liar yang ditemukan dalam kondisi sudah mati pada Minggu (20/9/2026).
“Pada hari ini, Minggu tanggal 20 September, kami BKSDA Pos Sampit menerima penyerahan dua ekor satwa yang sudah mati. Berdasarkan keterangan, satwa tersebut ditemukan di Desa Trantang,” kata Muriansyah, Senin (21/9/2026).
Kedua satwa tersebut kemudian dikuburkan petugas di wilayah Kecamatan Baamang. Selain di Desa Trantang, laporan mengenai satwa yang terdampak karhutla juga datang dari Kecamatan Baamang, Ketapang dan sejumlah wilayah sekitarnya.
Muriansyah menyebut beberapa jenis satwa yang ditemukan atau dilaporkan terdampak, di antaranya trenggiling, lutung abu-abu atau hirangan, kucing hutan, raja udang hingga polanduk.
“Untuk yang dilaporkan dan sempat kami temukan, pertama jenis trenggiling. Dari keterangan kawan-kawan komunitas, juga ada kucing hutan dan lutung abu-abu atau hirangan,” jelasnya.
Dampak karhutla terhadap satwa tidak hanya berupa temuan satwa yang mati. Sejumlah satwa lainnya masih ditemukan hidup dan membutuhkan penanganan.
BKSDA Pos Sampit bersama Yayasan Orangutan Foundation melakukan upaya penyelamatan satwa yang terdampak. Pada awal September, tim melakukan rescue terhadap dua individu orangutan di wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Sementara itu, laporan mengenai satwa liar yang tidak dilindungi juga terus diterima BKSDA. Informasi tersebut berasal dari komunitas maupun tim Satgas Karhutla yang berada di lapangan.
“Yang tidak dilindungi itu banyak yang dilaporkan, baik dari komunitas ataupun tim Satgas Karhutla yang berada di Kabupaten Kotawaringin Timur. Di antaranya jenis ular, biawak dan beberapa jenis burung yang tidak dilindungi,” ujarnya.
Menurut Muriansyah, penanganan satwa terdampak karhutla membutuhkan kerja sama berbagai pihak. BKSDA mendapat dukungan dari komunitas dan tim Satgas Karhutla yang membantu menemukan serta melaporkan keberadaan satwa di lokasi kebakaran.
“Kami banyak menerima bantuan, baik dari kawan-kawan komunitas maupun dari pihak regu atau tim Satgas Karhutla yang bertugas di Kabupaten Kotawaringin Timur,” pungkasnya.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Habitat satwa liar ikut terdampak, sementara sebagian satwa harus berjuang menyelamatkan diri ketika api meluas. (f1/sb)