Kasus ISPA Kembali Naik, RSUD Murjani Tangani 546 Kasus hingga September
SB, SAMPIT - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di RSUD dr Murjani Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terus ditemukan di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data RSUD dr Murjani Sampit mencatat sebanyak 546 pasien ISPA mendapatkan pelayanan rawat jalan maupun rawat inap sepanjang Juli hingga 23 September 2026.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Murjani Sampit, dr Candra E, mengatakan pada Juli tercatat 154 kasus ISPA. Dari jumlah tersebut, sebanyak 106 pasien menjalani rawat jalan dan 48 pasien menjalani rawat inap.
Sementara pada Agustus, terdapat 214 kasus ISPA yang terdiri dari 124 pasien rawat jalan dan 90 pasien rawat inap.
“Data bulan Juli kasus ISPA di RSUD dr Murjani Sampit rawat jalan dan rawat inap ada 154 kasus. Untuk rawat inap 48 dan rawat jalan 106,” kata Candra, Rabu (23/9/2026).
Memasuki September, hingga 23 September 2026 tercatat 178 kasus ISPA. Rinciannya, 115 pasien menjalani rawat jalan dan 63 pasien menjalani rawat inap.
Menurut Candra, kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan asap dan partikel debu dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta seperti jantung dan ginjal. Paparan asap dikhawatirkan dapat memperburuk kondisi kesehatan kelompok tersebut.
“Terutama sekali anak-anak, orang tua, dan orang-orang yang terindikasi memiliki penyakit seperti jantung dan ginjal. Itu bisa memperparah kondisi ketika mereka keluar rumah,” jelasnya.
Karena itu, masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar rumah saat kondisi kabut asap disarankan menggunakan masker. Penggunaan masker dinilai dapat membantu mengurangi masuknya partikel debu dan asap ke dalam saluran pernapasan.
“Kita berharap masyarakat kalau memang ingin beraktivitas di luar rumah tetap menggunakan masker, supaya partikel-partikel debu itu tidak masuk ke tubuh kita,” ujarnya.
Masyarakat juga diimbau membatasi aktivitas di luar rumah apabila kondisi udara memburuk, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki penyakit penyerta. (f1/sb)