Penyakit Kronis Dominasi Layanan RSUD Murjani, Kesadaran Cegah Faktor Risiko Perlu Ditingkatkan
SB, SAMPIT – Penyakit tidak menular masih menjadi salah satu penyumbang terbesar beban pelayanan kesehatan di RSUD dr Murjani Sampit. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, ribuan kasus penyakit kronis tercatat ditangani rumah sakit daerah tersebut, dengan hipertensi menjadi kasus terbanyak.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Murjani Sampit, dr Candra E, mengatakan hipertensi menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi selama periode tersebut. Tercatat sebanyak 7.467 kasus hipertensi mendapat pelayanan di RSUD dr Murjani Sampit.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar pasien merupakan kelompok usia di atas 50 tahun, yakni sebanyak 4.692 pasien. Kemudian kelompok usia 18–50 tahun mencapai 2.705 pasien, sedangkan pasien usia 2–17 tahun tercatat sebanyak 70 orang.
“Dominasi kasus hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat,” kata Candra, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, tingginya kasus penyakit kronis perlu menjadi perhatian karena sebagian besar berkaitan dengan faktor risiko yang dapat dikendalikan melalui perubahan pola hidup serta pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Selain hipertensi, sejumlah penyakit lainnya juga mencatat angka pelayanan cukup tinggi. Talasemia beta misalnya, mencapai 2.991 kasus dan menjadi salah satu penyakit yang cukup banyak ditangani di rumah sakit tersebut.
Kasus talasemia beta didominasi pasien usia 2–17 tahun dengan jumlah 1.984 pasien. Selanjutnya, kelompok usia 18–50 tahun sebanyak 955 pasien, usia di bawah dua tahun sebanyak 34 pasien, dan pasien di atas 50 tahun sebanyak 18 orang.
Sementara itu, diabetic polyneuropathy atau gangguan saraf akibat diabetes tercatat sebanyak 2.753 kasus. Dispepsia mencapai 2.583 kasus, angina pektoris sebanyak 2.419 kasus, sedangkan anemia akibat penyakit kronis mencapai 2.324 kasus.
Candra mengatakan, data tersebut menunjukkan penyakit kronis tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Sejumlah kasus juga ditemukan pada kelompok usia produktif hingga anak-anak, sehingga upaya pencegahan perlu dilakukan sejak dini.
“Pemeriksaan kesehatan secara berkala, pengaturan pola makan, aktivitas fisik yang cukup, serta pengendalian faktor risiko menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya penyakit kronis,” ujarnya.
Selain penyakit tersebut, diabetes melitus dengan komplikasi saraf tercatat sebanyak 2.040 kasus. Kemudian gagal jantung kongestif mencapai 1.862 kasus, nekrosis pulpa gigi sebanyak 1.835 kasus, serta atherosclerotic cardiovascular disease atau penyakit jantung akibat penyumbatan pembuluh darah mencapai 1.555 kasus.
Menurut Candra, tingginya angka pelayanan tersebut menjadi gambaran bahwa penyakit tidak menular masih menjadi tantangan dalam pelayanan kesehatan di daerah. Penanganan, kata dia, tidak cukup hanya dilakukan ketika masyarakat sudah mengalami keluhan atau komplikasi.
“Data ini menjadi gambaran bahwa penyakit tidak menular masih menjadi tantangan utama pelayanan kesehatan. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini perlu terus ditingkatkan di masyarakat,” pungkasnya.
Ia berharap masyarakat semakin aktif melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan menerapkan pola hidup sehat. Dengan deteksi lebih awal, faktor risiko penyakit kronis dapat dikendalikan sehingga tidak berkembang menjadi komplikasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. (f1/sb)