Terpapar Kabut Asap, Relawan Karhutla di Sampit Sempat Alami Desaturasi 60 Persen
SB, SAMPIT - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat, termasuk petugas dan relawan yang terlibat dalam pemadaman.
Dokter Spesialis Paru RSUD dr Murjani Sampit, dr Muhammad Taufiqqurahman, mengungkapkan salah satu kasus terparah yang ditangani pihaknya merupakan seorang relawan dari unsur Polri yang mengalami paparan asap cukup berat setelah membantu memadamkan kebakaran.
Pasien tersebut harus dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD dr Murjani Sampit karena mengalami penurunan kadar oksigen dalam darah atau desaturasi hingga 60 persen.
“Paling parah kemarin kita menemukan adanya pasien relawan dari teman-teman Polri. Habis memadamkan api, ternyata terlalu banyak menghirup asap sehingga harus dibawa ke UGD RSUD dr Murjani,” ujar Taufiqqurahman, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, kondisi pasien saat tiba di rumah sakit cukup serius. Tim medis kemudian melakukan penanganan untuk menstabilkan kondisi pasien dan memberikan terapi oksigen serta tindakan medis lainnya.
“Waktu itu desaturasi sampai 60 persen. Kemudian kita tenangkan, kita kasih tindakan. Akhirnya beliau sudah mulai membaik dan kita bisa kontrol ke Polri besoknya,” jelasnya.
Setelah kondisinya membaik, pasien juga menjalani pemeriksaan lanjutan, termasuk rontgen. Dokter kemudian memberikan obat untuk rawat jalan dan merekomendasikan agar pasien beristirahat sementara waktu sebelum kembali melakukan aktivitas.
Di tengah kondisi kabut asap yang masih terjadi, Taufiqqurahman mengimbau masyarakat untuk meningkatkan perlindungan diri, terutama dengan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.
Ia menegaskan penggunaan masker sangat penting, terlebih bagi masyarakat yang memiliki penyakit penyerta seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
“Kalau kami, imbauan juga dari Persatuan Dokter Paru Indonesia di pusat, itu harus menggunakan masker, jelas. Apalagi untuk orang-orang yang memang punya penyakit bawaan seperti asma atau PPOK,” tegasnya. (f1/sb)