Kabut Asap Menebal, Dokter Paru Ingatkan Risiko Gangguan Pernapasan
SB, SAMPIT – Kabut asap yang masih menyelimuti Sampit dan sekitarnya bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Paparan asap juga dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.
Dokter Spesialis Paru RSUD dr Murjani Sampit, dr Muhammad Taufiqqurahman, meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara belum membaik.
“Kalau memang tidak mempunyai keperluan yang sangat urgent, mending tidak usah keluar rumah,” kata Taufiqqurahman, Jumat (2/10/2026).
Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan asap.
“Atau kalau memang harus keluar rumah, harus menggunakan masker,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat disarankan memperbanyak minum air putih agar kondisi tubuh tetap terjaga selama terpapar kabut asap.
Perhatian khusus diberikan kepada warga yang memiliki penyakit pernapasan, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Mereka diminta tidak mengabaikan pengobatan rutin karena kabut asap dapat menjadi pemicu serangan.
“Bagi orang-orang yang memiliki penyakit bawaan seperti asma maupun PPOK, itu harus rutin berobat benar-benar supaya jangan sampai terjadi serangan,” jelasnya.
Menurut Taufiqqurahman, dampak asap bisa muncul dalam waktu singkat. Terlalu banyak menghirup asap dapat menyebabkan trauma inhalasi hingga menurunkan kadar oksigen dalam tubuh.
“Kalau untuk jangka pendek, mungkin ada terjadi trauma inhalasi maupun terjadinya desaturasi, kurangnya kadar oksigen karena terlalu banyak menghirup asap,” katanya.
Risiko lainnya muncul jika paparan berlangsung terus-menerus. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu bronkitis kronis dan kerusakan sel pada saluran pernapasan.
“Biasanya dengan paparan asap ini menyebabkan terjadinya bronkitis kronik atau perusakan sel-sel di saluran pernapasan akibat terlalu banyak terpapar asap,” ungkapnya.
Gangguan tersebut bahkan dapat baru dirasakan dalam waktu satu hingga dua tahun, terutama pada kelompok lanjut usia.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain sesak napas saat beraktivitas dan meningkatnya produksi lendir di saluran pernapasan.
“Terutama, dia bakal sesak napas saat beraktivitas, kemudian terjadi penambahan jumlah lendir pada saluran napas,” pungkasnya. (f1/sb)