Lewati ke konten utama
Provinsi

Siap Sejak Dini Hadapi Berakhir Karhutla, Mentaya Hulu Waspadai Banjir

Redaksi 03-10-2026, 10:40 WIB 2 menit baca
Camat Mentaya Hulu, Edison saat mendampingi Bupati H Halikinnor menyerahkan bansos kepada masyarakat terdampak karhutla. (FOTO: ISTIMEWA)
Camat Mentaya Hulu, Edison saat mendampingi Bupati H Halikinnor menyerahkan bansos kepada masyarakat terdampak karhutla. (FOTO: ISTIMEWA)

SB, SAMPIT - Pemerintah Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai mewaspadai potensi bencana banjir setelah wilayah tersebut dilanda kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Camat Mentaya Hulu Edison mengatakan, pengalaman menghadapi kemarau panjang dan karhutla tahun ini menjadi evaluasi penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana berikutnya.

Menurutnya, berdasarkan karakteristik cuaca di wilayah Mentaya Hulu, kemarau panjang biasanya diikuti perubahan kondisi cuaca yang dapat memicu hujan dengan intensitas tinggi hingga berpotensi menyebabkan banjir.

“Karhutla ini merupakan suatu pembelajaran juga ke depan bagi kami untuk mempersiapkan diri lebih matang lagi untuk penanganan kabut asap ini. Kalau kita belajar dari keadaan ini, kemungkinan ke depan akan terjadi lagi,” ujar Edison, Sabtu (3/10/2026).

Ia mengatakan, sebagai putra daerah yang lahir dan besar di Mentaya Hulu, dirinya memahami karakteristik perubahan cuaca di wilayah tersebut. Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya fokus terhadap penanganan karhutla dan kabut asap, tetapi juga mulai mengantisipasi kemungkinan bencana hidrometeorologi setelah kemarau berakhir.

“Saya lahir dan besar di sini, jadi saya tahu persis. Kalau kemarau panjang seperti ini, biasanya akan ada balasnya, pantun berbalas pantun. Artinya, nanti akan ada banjir yang luar biasa juga terjadi di sini,” jelasnya.

Selain ancaman bencana, kondisi kemarau dan kabut asap juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Edison menyebut sejumlah keluhan yang ditangani tenaga kesehatan antara lain diare akibat persoalan air bersih serta infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Penyakit yang terjadi seperti biasa, diare karena masalah air bersih, terus ISPA. ISPA itu infeksi saluran pernapasan atas. Tapi semuanya Alhamdulillah bisa ditangani di sini oleh Puskesmas dan petugas kesehatan yang ada,” katanya.

Pemerintah kecamatan, lanjut Edison, terus berkoordinasi dengan puskesmas dan pihak terkait untuk memastikan masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan mendapatkan pelayanan.

Di sektor pendidikan, kabut asap juga menyebabkan aktivitas belajar mengajar terdampak. Kebijakan pembelajaran mengikuti arahan Pemerintah Kabupaten Kotim, termasuk penerapan pembelajaran dari rumah saat kondisi tidak memungkinkan untuk kegiatan tatap muka.

“Kalau dari kabupaten diliburkan, mereka libur juga di sini. Sekarang ini masih tahap belajar di rumah,” ungkapnya.

Edison menambahkan, koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kotim terus dilakukan agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan meski kondisi lingkungan belum sepenuhnya normal.

Ia berharap dukungan pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus diperkuat, baik dalam penanganan dampak karhutla maupun untuk mengantisipasi potensi bencana yang dapat terjadi setelah kemarau panjang.

“Kami selalu koordinasi. Mudah-mudahan bantuan dari pemerintah daerah maupun provinsi bisa terus diberikan sesuai kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.(f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard