Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Vape Berisiko Sebabkan Kerusakan Paru Permanen

Redaksi 08-10-2026, 14:53 WIB 2 menit baca
Dokter Spesialis Paru RSUD dr Murjani Sampit, dr Muhamad Taufiqurrahman
Dokter Spesialis Paru RSUD dr Murjani Sampit, dr Muhamad Taufiqurrahman

SB, SAMPIT - Penggunaan rokok elektronik atau vape dinilai tetap memiliki risiko serius terhadap kesehatan paru-paru. Paparan dalam jangka panjang bahkan dapat memicu gangguan paru kronis hingga kerusakan yang bersifat permanen.

Dokter Spesialis Paru RSUD dr Murjani Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, dr. Muhamad Taufiqurrahman, mengatakan dampak penggunaan vape dapat terjadi dalam kondisi akut maupun berkembang menjadi gangguan kronis.

“Risikonya sangat serius. Dampaknya bisa akut maupun kronis. Dampak akut dapat menyebabkan gagal napas akibat E-cigarette or Vaping Associated Lung Injury (EVALI). Sedangkan dampak kronis dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit seperti kanker paru dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK),” ujarnya, Rabu (7/10/2026).

Menurut Taufiqurrahman, anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional tidak sepenuhnya benar. Keduanya tetap memiliki risiko terhadap kesehatan, terutama apabila digunakan secara terus-menerus dalam jangka panjang.

“Kami dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia telah menyampaikan dengan tegas bahwa rokok elektrik atau vape sama berbahayanya dengan rokok konvensional,” tegasnya.

Ia menjelaskan, gangguan paru akibat penggunaan vape dapat ditandai sejumlah gejala. Di antaranya batuk yang sulit sembuh, peningkatan produksi lendir atau dahak, sesak napas, hingga mudah lelah ketika melakukan aktivitas ringan.

“Gejalanya bervariasi, tergantung lama paparan. Gejala awal seperti batuk yang sulit sembuh, peningkatan lendir atau dahak di saluran napas, hingga sesak napas yang semakin berat dan mudah lelah saat melakukan aktivitas ringan,” jelasnya.

Taufiqurrahman juga mengingatkan bahwa kerusakan paru akibat paparan vape maupun rokok pada sebagian kasus dapat bersifat irreversible atau tidak dapat kembali seperti kondisi normal.

“Sebagian besar kerusakan akibat vape atau rokok bersifat irreversible atau tidak bisa kembali seperti normal. Kerusakan dapat bersifat progresif dan meninggalkan gejala sisa, terutama bagi mereka yang sudah terpapar bertahun-tahun,” tambahnya.

Ia menyebutkan, risiko tersebut juga sejalan dengan sejumlah temuan penelitian mengenai dampak penggunaan rokok elektronik terhadap kesehatan. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan paru-paru, tetapi juga dapat memengaruhi organ dan fungsi tubuh lainnya.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat, khususnya pengguna vape, untuk menghentikan penggunaannya sedini mungkin. Penghentian paparan dinilai penting untuk menekan risiko kerusakan paru yang lebih berat dan mencegah gangguan kesehatan berkembang lebih lanjut. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard