Lewati ke konten utama
Provinsi

Terjebak di Hutan Bekas Terbakar, Orangutan Betina di Sampit Diduga Kelaparan

Redaksi 16-10-2026, 09:41 WIB 3 menit baca
BKSDA saat melakukan evakuasi dan memeriksa kesehatan orangutan. (FOTO:ISTIMEWA)
BKSDA saat melakukan evakuasi dan memeriksa kesehatan orangutan. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, SAMPIT – Hutan yang hangus terbakar diduga membuat seekor orangutan betina kehilangan sumber makanan. Satwa dilindungi berusia sekitar 20 tahun itu ditemukan warga di kawasan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gang Sahabat, Kilometer 9, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu (14/10/2026). Kondisinya cukup aktif, tetapi tim medis menduga orangutan tersebut mengalami kekurangan asupan makanan.

Orangutan dengan berat badan 28 kilogram itu kemudian dievakuasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melalui Pos Sampit bersama Yayasan Orangutan Foundation International (OFI) dan aktivis lingkungan. Satwa betina yang kemudian diberi nama Ira tersebut ditemukan di tengah kawasan hutan yang telah terbakar, dengan akses menuju lokasi yang tidak mudah dilalui.

Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan tim bergerak setelah menerima laporan warga mengenai keberadaan orangutan di lokasi tersebut. Petugas harus menghadapi medan sulit karena sebagian jalur menuju tempat penemuan telah terdampak kebakaran.

“Orangutan ini ditemukan di area bekas kebakaran. Akses menuju lokasi cukup sulit karena sebagian besar jalan yang kami lalui sudah terbakar,” kata Muriansyah, Jumat (16/10/2026).

Ia menduga Ira berpindah tempat ketika kebakaran terjadi untuk mencari lokasi yang lebih aman. Namun, kerusakan habitat dan terbatasnya sumber makanan kemungkinan membuat satwa tersebut kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sebelum diselamatkan, keberadaan Ira pertama kali diketahui Kamilus, rekan Sabinus, sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, Kamilus sedang memeriksa dan membersihkan kebun di Gang Sahabat, Kilometer 9, Sampit.

Di kawasan hutan bekas terbakar, ia melihat seekor orangutan berada di tanah. Ketika didekati, satwa tersebut langsung naik ke pohon. Kamilus kemudian menghubungi Sabinus untuk meminta bantuan mencari pihak yang dapat menangani satwa dilindungi itu.

Sabinus mengaku tidak ingin mengambil tindakan sendiri karena memahami status orangutan sebagai satwa yang dilindungi undang-undang. Ia memilih mencari bantuan agar Ira segera dievakuasi oleh petugas berwenang.

“Saya tahu orangutan ini satwa yang dilindungi. Karena itu, kami tidak melakukan apa-apa terhadapnya, tetapi langsung melaporkan agar segera diamankan oleh pihak yang bertanggung jawab,” ujar Sabinus.

Ia mengaku lega setelah mengetahui Ira berhasil diselamatkan. Meski warga yang berkebun di sekitar lokasi kerap mengalami gangguan pada tanaman nanas, Sabinus menegaskan bahwa keberadaan orangutan tersebut tetap harus ditangani dengan cara yang tepat.

Proses evakuasi Ira sempat menghadapi kendala. Dokter hewan Ichlasul Khaerul menjelaskan, orangutan itu berada di pohon yang rimbun dengan banyak ranting sehingga menyulitkan petugas melakukan pembiusan.

Tim kemudian berupaya mengarahkan Ira berpindah ke pohon lain agar proses pembiusan dan evakuasi dapat berlangsung lebih aman.

“Secara umum, kondisi orangutan tersebut dalam keadaan sehat. Dari pemeriksaan fisik, kami tidak menemukan adanya patah tulang, luka, maupun bekas peluru pada tubuhnya,” jelas Ichlasul.

Pemeriksaan awal juga menunjukkan suara paru-paru Ira terdengar baik. Tim belum menemukan gejala yang mengarah pada infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sementara aktivitasnya masih tergolong cukup aktif.

Meski tidak ditemukan tanda-tanda cedera fisik, kondisi Ira tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Dengan berat badan 28 kilogram, bobotnya masih tergolong ideal untuk orangutan betina berdasarkan standar yang digunakan tim medis. Namun, kondisi lingkar perutnya menimbulkan dugaan bahwa satwa tersebut tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup.

“Kalau melihat kondisi lapangan, sumber makanan di lokasi tersebut sangat terbatas, bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada. Karena itu, kami menduga Ira berada dalam kondisi kelaparan,” ungkap Ichlasul.

Tim medis selanjutnya akan mengambil dan memeriksa sampel darah Ira di laboratorium untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap mengenai kondisi kesehatannya. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi salah satu dasar penentuan langkah penanganan berikutnya.

BKSDA juga akan berkoordinasi dengan tim medis untuk mempertimbangkan kemungkinan translokasi atau pemindahan Ira ke lokasi yang lebih aman. Namun, keputusan tersebut baru akan diambil setelah kondisi kesehatan satwa dinilai memadai.

“Kami akan melihat hasil pemeriksaan darah terlebih dahulu, kemudian berkoordinasi dengan BKSDA. Setelah semua dinilai baik dan aman, BKSDA akan menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan translokasi,” pungkas Ichlasul.

Penemuan Ira di kawasan bekas karhutla kembali menyoroti dampak kebakaran terhadap kehidupan satwa liar. Ketika hutan rusak dan sumber makanan menghilang, orangutan berisiko kehilangan tempat berlindung sekaligus kesulitan bertahan hidup. Kini, nasib Ira menunggu hasil pemeriksaan medis sebelum tim menentukan lokasi yang paling aman untuk penanganan selanjutnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard