Lewati ke konten utama
Provinsi

Karhutla Kotim Tembus 2.220 Hektare, Seranau Jadi Wilayah Terparah

Redaksi 20-10-2026, 13:19 WIB 3 menit baca
Karhutla Kotim Tembus 2.220 Hektare, Seranau Jadi Wilayah Terparah

SB, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menjadi ancaman serius. Hingga 19 Oktober 2026, total lahan yang terbakar mencapai 2.220,76 hektare, dengan akumulasi penanganan sebanyak 1.526 kejadian.

Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, mencapai 903,3 hektare atau sekitar 40,68 persen dari total lahan terbakar di Kotim. Kondisi ini menunjukkan besarnya tantangan yang masih harus dihadapi petugas dalam mengendalikan kebakaran di wilayah tersebut.

Komandan Harian Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan kebakaran masih terjadi di sejumlah kecamatan. Dalam periode 18 Oktober pukul 17.00 WIB hingga 19 Oktober pukul 17.00 WIB, petugas menangani 17 kejadian karhutla.

“Dalam periode tersebut, ada 17 kejadian yang ditangani. Sebarannya meliputi Mentawa Baru Ketapang sebanyak delapan kejadian, Baamang tujuh kejadian, serta Kota Besi dan Seranau masing-masing satu kejadian,” kata Rihel, Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, data tersebut menjadi gambaran bahwa upaya pemadaman masih harus dilakukan secara intensif, terutama di kawasan yang memiliki luasan kebakaran cukup besar.

Berdasarkan rekapitulasi Satgas Karhutla Kotim, Seranau menempati urutan pertama wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 903,3 hektare.

Di posisi berikutnya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang mencatat 464,501 hektare atau sekitar 20,92 persen dari total kebakaran. Kemudian Kecamatan Baamang dengan 424 hektare atau 19,09 persen. Sementara itu, luas lahan terbakar di Kecamatan Kota Besi mencapai 98,655 hektare, Mentaya Hilir Utara 90,558 hektare, dan Pulau Hanaut 82,65 hektare.

Besarnya luasan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada jumlah kejadian harian. Pemantauan wilayah terdampak, penentuan prioritas pemadaman, dan pencegahan penjalaran api juga menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian.

Ancaman karhutla juga tercermin dari tingginya jumlah titik panas atau hotspot yang terdeteksi di Kotim.

Rihel menyebutkan, hingga 19 Oktober 2026 pukul 17.54 WIB, tercatat 49.855 titik panas sepanjang tahun ini.

“Jumlah titik panas masih menjadi perhatian karena sebarannya mencakup banyak kecamatan. Data ini menjadi salah satu acuan untuk memantau perkembangan ancaman kebakaran di wilayah Kotim,” jelasnya.

Kecamatan Mentaya Hilir Utara mencatat jumlah titik panas terbanyak, yakni 8.228 titik. Berikutnya Pulau Hanaut dengan 7.299 titik, Teluk Sampit sebanyak 6.149 titik, dan Mentaya Hilir Selatan mencapai 5.194 titik.

Dari sisi waktu, September menjadi periode dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 23.686 titik. Pada Agustus tercatat 14.529 titik, sedangkan Oktober mencapai 11.123 titik hingga tanggal pendataan.

Perlu dicatat, jumlah titik panas merupakan hasil deteksi yang digunakan untuk mengindikasikan potensi kebakaran dan tidak selalu sama dengan jumlah kejadian kebakaran yang telah terkonfirmasi di lapangan.

Rihel menegaskan, penanganan karhutla terus dilakukan berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan. Besarnya luasan lahan terbakar dan tingginya jumlah titik panas menjadi tantangan bagi petugas dalam mengendalikan kebakaran di berbagai wilayah.

Upaya pemadaman perlu berjalan beriringan dengan pemantauan titik panas dan pencegahan agar api tidak meluas ke kawasan lain.

Dengan luas kebakaran yang telah mencapai lebih dari 2.200 hektare, kewaspadaan seluruh pihak tetap diperlukan. Dukungan masyarakat dan koordinasi lintas unsur juga penting untuk membantu Satgas mendeteksi potensi kebakaran lebih dini dan mempercepat penanganan di lokasi terdampak. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard