Lewati ke konten utama
Pemprov Kalteng

Temu Kader TBC, Kadinkes Kalteng: Jadikan Momen Ini Memperkuat Penanggulangan

Redaksi 16-04-2025, 10:45 WIB 2 menit baca
Kepala Dinkes Kalteng, Suyuti Syamsul ketika menghadiri kegiatan Temu Kader Tuberkulosis. (FOTO:DINKES KALTENG)
Kepala Dinkes Kalteng, Suyuti Syamsul ketika menghadiri kegiatan Temu Kader Tuberkulosis. (FOTO:DINKES KALTENG)

SB, PALANGKA RAYA – Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul membuka kegiatan Temu Kader Tuberkulosis dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis se-Dunia (HTBS) tingkat provinsi setempat, Senin (14/4/2025).

Suyuti mengatakan, TBC masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Di Indonesia, setiap tahunnya diperkirakan lebih dari 1 juta orang jatuh sakit karena TBC, dan sekitar 140 ribu jiwa meninggal dunia.

“Artinya, setiap jam kita kehilangan 14 orang karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dan disembuhkan ini. Di Provinsi Kalimantan Tengah, meskipun tren capaian penemuan kasus dan pemberian TPT (Terapi Pencegahan TBC) sudah meningkat, namun kita masih berada di bawah target nasional. Hal ini menjadi pengingat bahwa upaya kita masih memerlukan penguatan, khususnya di lini paling depan yaitu komunitas,” ujarnya.

Oleh karena itu, kegiatan Temu Kader TBC ini sangat penting sebagai sarana penguatan kapasitas, pembaruan informasi, serta pertukaran pengalaman antar kader. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi tantangan di lapangan dan menyusun langkah tindak lanjut yang lebih sinergis. Dengan kolaborasi yang kuat antara kader, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah, kita dapat memperluas cakupan skrining, meningkatkan keberhasilan pengobatan, serta mengurangi stigma yang masih melekat di masyarakat.

“Dalam Buku Panduan Kader TBC Kementerian Kesehatan, kader memiliki peran yang sangat strategis, mulai dari menjaring terduga, mengedukasi masyarakat, mendampingi pasien menjalani pengobatan, hingga memfasilitasi investigasi kontak dan pelaporan. Peran ini memerlukan dukungan yang nyata, tidak hanya dari sektor kesehatan, tetapi juga lintas sektor, sehingga kader dapat menjalankan fungsinya secara optimal dan berkelanjutan,” ungkap Kadiskes.

“Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik tolak untuk memperkuat komitmen dan kerja sama dalam penanggulangan TBC. Dengan demikian, kita dapat mencapai target yang telah ditetapkan dan mewujudkan komitmen Indonesia bebas TBC pada tahun 2050 serta percepatan eliminasi TBC pada tahun 2030”, timpalnya menurup penyampaian.

Oleh karena itu, kegiatan Temu Kader TBC ini sangat penting sebagai sarana penguatan kapasitas, pembaruan informasi, serta pertukaran pengalaman antar kader. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi tantangan di lapangan dan menyusun langkah tindak lanjut yang lebih sinergis. Dengan kolaborasi yang kuat antara kader, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah, kita dapat memperluas cakupan skrining, meningkatkan keberhasilan pengobatan, serta mengurangi stigma yang masih melekat di masyarakat. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard