Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Disdik Kotim Buka Akses Sekolah bagi Anak Tinggal di Perbatasan

Redaksi 27-07-2025, 12:23 WIB 1 menit baca
Rapat koordinasi penyusunan kerja sama Disdik Kotim dan Seruyan. (FOTO:ISTIMEWA)
Rapat koordinasi penyusunan kerja sama Disdik Kotim dan Seruyan. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, SAMPIT - Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Disdik Kotim) menegaskan komitmennya dalam membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi anak-anak dari wilayah perbatasan, termasuk yang berasal dari Kabupaten Seruyan.

Kebijakan ini menjadi wujud kepedulian pemerintah daerah terhadap hak dasar pendidikan bagi setiap anak, tanpa terkendala batas administratif.

Kepala Disdik Kotim, Muhammad Irfansyah, menyatakan bahwa pihaknya tidak membatasi anak-anak dari luar Kotim untuk bersekolah, selama secara geografis mereka lebih dekat dengan sekolah yang ada di wilayah Kotim.

“Kami tidak melihat batas administratif. Kalau anak itu tinggalnya lebih dekat ke sekolah di Kotim, maka kami beri ruang agar bisa bersekolah di sini,” ujar Irfansyah.

Ia menjelaskan, banyak anak dari Kabupaten Seruyan yang ikut orang tuanya bekerja di wilayah Kotim namun belum terfasilitasi pendidikan. Disdik Kotim berinisiatif membuka pintu bagi mereka agar dapat mengakses pendidikan formal.

“Ini bukan hanya soal lokasi, tapi kepedulian terhadap masa depan anak-anak. Meskipun mereka bukan warga Kotim, tetap kami fasilitasi agar bisa masuk sekolah,” tegasnya.

Selain itu, Irfansyah mendorong adanya sinergi lintas kabupaten untuk menangani persoalan pendidikan di wilayah perbatasan secara lebih terintegrasi. Menurutnya, tidak seharusnya status domisili atau keterbatasan ekonomi menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan.

“Hak pendidikan adalah hak dasar yang tidak boleh dibatasi oleh sekat administratif. Kita ingin semua anak bisa sekolah. Jangan sampai karena alasan jarak atau ekonomi, mereka kehilangan kesempatan belajar,” tandasnya.

Kebijakan inklusif ini juga menjadi bagian dari upaya Pemkab Kotim dalam menekan angka putus sekolah dan mendorong pemerataan pendidikan, khususnya di wilayah dengan tantangan geografis dan sosial yang tinggi.

Disdik Kotim berharap pendekatan kolaboratif seperti ini dapat menjadi model bagi daerah lain, guna memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam mengakses hak pendidikan mereka. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard