Meski Hujan Kerap Turun, Karhutla di Kotim Masih Terjadi
SB, SAMPIT - Hujan deras beberapa pekan terakhir mengguyur Kotawaringin Timur (Kotim). Bahkan, di sebagian daerah, banjir mulai muncul. Namun, curah hujan tidak serta merta menghapus ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
Salah satunya ada di Jalan Bumi Ayu, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Senin (15/9) sekitar pukul 10.30 WIB.
Api membakar semak belukar dengan jenis tanah gambut dan meludeskan sekitar 0,25 hektare lahan sebelum berhasil dipadamkan.
Menurut keterangan salah seorang warga Anto di lokasi, api awalnya kecil namun cepat meluas karena angin kencang. Warga khawatir kobaran api bisa menjalar ke permukiman karena lokasi kebakaran berada di sekitar rumah penduduk dan kebun.
“Awalnya itu apinya kecil saja, tapi angin kencang jadi merembet terus akhirnya meluas kurang lebih 200 meter. Lahannya memang sementara ini semak belukar. Di sekitarnya banyak rumah warga. Dikhawatirkan kena rumah. Kalau ada orangnya enak, tapi kalau sedang kerja itu yang kita khawatirkan,” ujarnya saat diwawancara.
Ia menyebut, kawasan tersebut memang kerap terjadi kebakaran lahan saat memasuki musim kemarau. Tiap tahun, menurutnya selalu ada kasus kebakaran lahan. Yang terparah terjadi saat 2023 lalu.
“Di sini hampir tiap musim kemarau pasti ada kebakaran lahan. Dua tahun lalu yang besar. Kalau musim kemarau itu langganan. Kalau penyebab api saya kurang tahu, saya tahunya pas mendengar suara api,” katanya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengerahkan sebanyak 13 personel BPBD dalam operasi tersebut, ditambah dukungan empat anggota Polri dan satu anggota TNI.
Lokasi kebakaran berjarak sekitar 500 meter dari jalan poros dan tidak ada sumber air di sekitar lokasi sempat membuat petugas kesulitan. Api baru bisa padam setelah 36 menit dipadamkan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kotim, Agus Mulyadi, mengatakan pihaknya segera merespons laporan masyarakat dan bersyukur api cepat terkendali. Ia bersyukur kondisi lahan gambut di wilayah tersebut tidak terlalu dalam. Sehingga api dapat dengan mudah dipadamkan.
“Untuk penanganan hari ini kita dapat laporan dari masyarakat. Kita mengerahkan dua armada dengan lima personel inti. Apinya sudah bisa dipadamkan. Bersyukur gambutnya tidak terlalu dalam, jadi mudah dipadamkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini Kotim masih dalam status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan hingga 29 Oktober mendatang. Status itu berjalan bersamaan dengan siaga darurat banjir, mengingat wilayah utara Kotim masih terdampak genangan.
“Kami menghimbau kepada masyarakat agar tidak membakar sembarangan karena akan memicu karhutla. Cuaca cukup panas meski diguyur hujan, sehingga potensi kebakaran tetap tinggi,” tutupnya. (f1/sb)