Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Perubahan Tren Penyakit Pengaruhi Kunjungan Poliklinik RSUD dr Murjani Sampit

Redaksi 01-11-2025, 09:09 WIB 2 menit baca
Tampak dari depan IGD RSUD dr Murjani Sampit. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)
Tampak dari depan IGD RSUD dr Murjani Sampit. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Plt Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Yulia Nofiany, mengungkapkan bahwa perubahan tren penyakit masyarakat berpengaruh terhadap jumlah kunjungan pasien di berbagai poliklinik rumah sakit tersebut.

“Perubahan tren penyakit secara otomatis mempengaruhi kunjungan di poliklinik. Namun, skrining di IGD tetap menjadi yang terbanyak setiap tahunnya, karena memang khusus untuk pasien gawat darurat atau rujukan dari puskesmas,” ujar dr Yulia, Sabtu (1/11/2025).

Ia menjelaskan, krining di Instalasi Gawat Darurat (IGD) bertujuan untuk memilah pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratannya, sehingga tenaga medis dapat menentukan siapa yang membutuhkan pertolongan paling cepat.
Meskipun demikian, seluruh pasien yang datang ke IGD tetap akan dilayani sesuai hasil triase atau skrining awal.

Berdasarkan data RSUD dr Murjani Sampit, pada tahun 2024 jumlah kunjungan pasien IGD mencapai 18.197 orang, diikuti oleh Klinik Penyakit Dalam sebanyak 12.391 pasien, Klinik Rehabilitasi Medik 9.233 pasien, Klinik Anak 6.489 pasien, dan Klinik Jiwa 6.243 pasien.

Sementara itu, periode Januari hingga September 2025 menunjukkan adanya penurunan jumlah kunjungan, meskipun IGD masih menjadi layanan dengan kunjungan tertinggi yakni 15.507 pasien.

Adapun Klinik Penyakit Dalam mencatat 9.882 kunjungan, Klinik Bedah 8.020, Klinik Jiwa 6.950, dan Klinik Anak 6.191 pasien rawat jalan.

Menurut dr Yulia, penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya lima dokter spesialis karena berbagai alasan, antara lain meninggal dunia, mutasi, dan melanjutkan pendidikan.

“Ada lima dokter yang off. Di antaranya dr. Susetyo karena meninggal dunia, dokter jiwa yang mutasi sehingga kini hanya ada dr. Waro di Poli Jiwa. Dokter onkologi juga mutasi, sedangkan dokter di Poli Neuro dan Jantung sedang menjalani fellowship intervensi untuk memenuhi persyaratan layanan cathlab,” jelasnya.

Selain faktor tenaga medis, dr Yulia menambahkan bahwa penurunan kunjungan juga dipengaruhi oleh optimalnya pelaksanaan program rujuk balik, sehingga pasien yang ditangani di RSUD kini lebih difokuskan pada kasus-kasus spesialistik. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard