seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Harga BBM Naik, Sopir Kelotok di Seranau Terjepit Biaya Operasional

by Redaksi - Tanggal 25-04-2026,   jam 10:52:26
Tampak kelotok penyeberangan penumpang Sampit-Seranau di Pelabuhan PPM Sampit. (FOTO: SEPUTARBORNEO)

SB, SAMPIT - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan para sopir perahu kelotok di Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Lonjakan biaya operasional membuat pendapatan mereka kian tergerus.

Transportasi sungai hingga kini masih menjadi andalan masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di seberang Sungai Mentaya. Namun, kondisi tersebut kini dihadapkan pada persoalan baru akibat mahalnya harga bahan bakar.

Salah satu sopir kelotok, Indra, mengaku kesulitan mendapatkan solar subsidi. Ia menyebut, kondisi teknis membuat perahunya tidak memungkinkan untuk langsung mengisi BBM di SPBU.

“Kalau bawa kelotok ke SPBU tidak mungkin. Beli pakai jerigen juga tidak boleh, jadi terpaksa beli ke pengecer,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Menurutnya, harga solar dari pengecer jauh lebih mahal dibanding sebelumnya. Ia menyebut, harga lima liter solar yang dulu sekitar Rp50 ribu kini melonjak hingga Rp120 ribu.

“Dulu Rp50 ribu dapat lima liter, sekarang bisa sampai Rp120 ribu,” jelasnya.

Kenaikan harga BBM tersebut berdampak langsung pada penghasilan harian. Jika sebelumnya ia bisa meraup Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari, kini pendapatannya turun menjadi sekitar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu.

“Biasanya dapat Rp100 ribu sampai Rp150 ribu sehari. Sekarang paling Rp70 ribu sampai Rp80 ribu. Kerja dari sore sampai malam,” katanya.

Meski biaya operasional meningkat, Indra memilih tidak menaikkan tarif penyeberangan demi mempertimbangkan kondisi ekonomi penumpang. Tarif penyeberangan masih dipatok Rp5 ribu per orang, sementara jasa susur sungai menuju bandara sekitar Rp150 ribu.

Sebagai siasat agar tetap bertahan, ia kini menunggu jumlah penumpang lebih banyak sebelum berangkat.

“Sekarang tunggu penumpang ramai dulu, misalnya lima atau enam orang baru jalan. Kalau cuma satu orang bisa rugi,” tutupnya. (f1/sb)