Wakil Bupati Kapuas, Dodo saat membuka rapat koordinasi kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Tahun 2026 di Aula Bapperida Kapuas, Selasa (12/5/2026). FOTO: HUMAS/SB
SB, KUALA KAPUAS – Pemerintah Kabupaten Kapuas melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas menggelar rapat koordinasi kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Tahun 2026 di Aula Bapperida Kapuas, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan unsur Forkopimda, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, BMKG, Manggala Agni, para camat dari wilayah rawan Karhutla, perusahaan besar swasta, hingga relawan.
Rakor dibuka langsung oleh Wakil Bupati Kapuas, Dodo, S.P. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Kabupaten Kapuas termasuk daerah rawan kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat bahaya tinggi berdasarkan Kajian Risiko Bencana Nasional Tahun 2022–2026.
"Total luasan risiko Karhutla di Kabupaten Kapuas mencapai 1.443.774 hektare. Memasuki musim kemarau, potensi titik panas diperkirakan mulai meningkat pada Mei dan mencapai puncaknya pada Agustus 2026," ujar Dodo.
Ia menegaskan, Karhutla bukan hanya persoalan kebakaran, tetapi juga berdampak luas terhadap kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga perekonomian masyarakat akibat kabut asap yang ditimbulkan.
"Karhutla menjadi tanggung jawab bersama. Mari jadikan Kabupaten Kapuas sebagai daerah yang mampu menekan angka kebakaran hutan dan lahan melalui kerja sama dan kolaborasi semua pihak," katanya.
Dodo juga berharap Kabupaten Kapuas dapat terbebas dari bencana asap akibat Karhutla pada tahun ini.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran Sojuaon Pandiangan, menyampaikan bahwa kondisi geografis Kabupaten Kapuas menjadi tantangan tersendiri dalam penanggulangan bencana.
Menurutnya, saat wilayah hilir mengalami kekeringan dan rawan terbakar, sebagian wilayah hulu justru masih dilanda banjir.
"Kondisi ini membuat pemerintah harus bekerja ekstra dalam menangani dua potensi bencana sekaligus," ungkapnya.
Ia menambahkan, musim kemarau tahun 2026 diprediksi cukup ekstrem akibat pengaruh fenomena El Nino, sehingga diperlukan koordinasi lintas sektor agar penanganan Karhutla dapat dilakukan secara cepat dan efektif.
"Sinergi seluruh pihak sangat diperlukan agar upaya pencegahan dan penanggulangan Karhutla di Kabupaten Kapuas berjalan optimal," pungkasnya. (hms/f4)