seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Tiga Kali Pindah Lokasi, Nobar Film Pesta Babi Tetap Antusias

by Redaksi - Tanggal 18-05-2026,   jam 01:56:58
Suasana Nonton Bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi Vol II yang digelar di Cafe Songopitu, Jalan Batu Batanggui Gang Mufakat, pada Minggu malam (17/5/2026). FOTO: BAYU/SB Suasana Nonton Bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi Vol II yang digelar di Cafe Songopitu, Jalan Batu Batanggui Gang Mufakat, pada Minggu malam (17/5/2026). FOTO: BAYU/SB

SB, NANGA BULIK – Puluhan pemuda di Nanga Bulik antusias mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi Vol II yang digelar di Cafe Songopitu, Jalan Batu Batanggui Gang Mufakat, pada Minggu malam (17/5/2026).

Meski disebut sempat mengalami intervensi hingga harus berpindah lokasi sebanyak tiga kali, kegiatan nobar tetap berlangsung dengan penuh semangat dan diskusi kritis dari para peserta yang didominasi kalangan anak muda.

Ketua DPC GMNI Lamandau, Debby Pramana Putra mengatakan, pemutaran film tersebut bukan bertujuan menciptakan kegaduhan, melainkan untuk membangun daya kritis generasi muda dalam melihat persoalan sosial dan pembangunan nasional.

"Esensi menonton Pesta Babi ini untuk merangsang masyarakat, agar lebih kritis dalam melihat sesuatu," ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya intervensi terhadap kegiatan nobar yang menurutnya membuat ruang diskusi publik menjadi terbatas.

Menurut Debby, alasan yang sering muncul terhadap pelarangan atau pembatasan pemutaran film adalah isu sensitif seperti SARA maupun propaganda. Namun ia mempertanyakan bagian mana dari isi film yang dianggap berbahaya bagi negara.

"Kalau film itu berbicara tentang konflik tanah adat, deforestasi, dan dampak sosial pembangunan, bagian mana yang dianggap berbahaya," tegasnya.

Debby menilai pembangunan nasional seharusnya tetap melibatkan masyarakat adat agar tidak menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat.

"Pemerintah harus membuka ruang publik dan melibatkan masyarakat dalam pembangunan. Kalau tidak melibatkan unsur masyarakat, konflik sosial bisa muncul karena miskomunikasi," tambahnya.

Sementara Ketua HMI Cabang Pangkalan Bun, Muhammad Affis Mulyadin menilai program ketahanan pangan nasional perlu dijalankan dengan pendekatan dialogis agar tidak memicu konflik agraria maupun kerusakan lingkungan.

"Pemerintah harus turun langsung ke lapangan untuk mendengar aspirasi masyarakat. Dialog-dialog dengan masyarakat penting dilakukan agar program pembangunan tidak menimbulkan persoalan baru," ujarnya.

Kegiatan nobar tersebut berlangsung kondusif dan menjadi ruang diskusi bagi anak muda untuk membahas isu konflik tanah adat, deforestasi, hingga dampak sosial dari proyek pembangunan nasional yang diangkat dalam film dokumenter tersebut.(BY/SB)