Sejumlah Bahan Pokok di Pasar PPM Sampit Naik Hingga 10 Persen, pada Senin (8/6/2026). FOTO: ABU/SB
SB, SAMPIT - Kenaikan harga sejumlah bahan pokok mulai dirasakan para pedagang di pasar. Selain dipicu naiknya harga bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah serta meningkatnya biaya distribusi dan bahan bakar minyak (BBM) turut memengaruhi harga jual berbagai komoditas.
Salah seorang pedagang sembako di Pasar PPM Sampit, Yogi, mengatakan kenaikan harga saat ini terjadi pada sejumlah komoditas dengan persentase bervariasi, berkisar antara 3 hingga 10 persen.
"Jelas ada kenaikan sebagian. Pokoknya kenaikannya sekitar 3 sampai 10 persen. Seperti bawang-bawangan dan biji-bijian, itu pada naik," ujarnya, pada Senin (8/6/2026).
Menurutnya, komoditas yang paling terasa mengalami kenaikan adalah bawang merah. Harga yang sebelumnya berkisar Rp45 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada bawang putih serta berbagai komoditas impor lainnya. Yogi menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya harga barang.
"Kalau biji-bijian kebanyakan barang impor. Rupiah melemah sampai sekitar Rp18 ribu per dolar, jadi nilai modal kita pasti bertambah," ungkapnya.
Untuk komoditas bawang putih, harga per karung yang sebelumnya berada di kisaran Rp470 ribu hingga Rp500 ribu kini naik menjadi sekitar Rp600 ribu per karung.
Selain itu, harga beras juga mengalami kenaikan meski tidak terlalu signifikan. Menurut Ogi, kenaikan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya biaya pengiriman.
"Beras ada kenaikan, tapi kecil. Karena ongkos kontainer memang naik. Kemarin naik sekitar Rp3 juta, sekarang bertambah lagi sekitar Rp1,5 juta. Itu yang memengaruhi harga," jelasnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga beras hanya berkisar sekitar Rp2.500 per sak dan belum terlalu membebani konsumen.
Sementara itu, harga cabai dinilai masih sangat fluktuatif dan sulit diprediksi karena bergantung pada ketersediaan pasokan di pasar.
Untuk komoditas kacang-kacangan yang sebagian masih bergantung pada impor, kenaikan harga tercatat sekitar 3 persen. Harga jual yang sebelumnya berada di kisaran Rp38 ribu per kilogram kini mencapai sekitar Rp40 ribu per kilogram.
"Kacang-kacangan naik sekitar 3 persen. Yang dulu bisa dijual Rp38 ribu, sekarang paling sekitar Rp40 ribu," katanya.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar barang yang dijualnya merupakan produk lokal. Adapun komoditas yang masih banyak bergantung pada impor antara lain kedelai dan beberapa jenis kacang-kacangan.
Meski demikian, ia memastikan stok kebutuhan pokok di pasaran masih relatif aman meskipun sesekali terjadi keterlambatan pasokan.
"Stok aman saja, cuma kadang tersendat sedikit. Tidak sampai kosong, hanya pasokannya tidak terlalu banyak," katanya.
Terkait faktor penyebab kenaikan harga, Ogi menilai kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan impor serta kenaikan harga BBM turut memberikan dampak terhadap biaya distribusi barang.
"Itu jelas berpengaruh terhadap ongkos angkut dan biaya muatan. Kalau harga BBM naik, otomatis biaya distribusi juga naik," tuturnya.
Ia berharap apabila nilai tukar rupiah kembali menguat, harga sejumlah komoditas dapat mengalami penurunan meski tidak terlalu signifikan. (f1/SB)