Lewati ke konten utama
NASIONAL

Tergiur Gaji Besar dari Medsos, Pemuda Asal Barsel Jadi Korban TPPO di Kamboja

Redaksi 30-06-2026, 00:12 WIB 1 menit baca
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin bersama Supiat asal Barito Selatan yang menjadi korban TPPO di Kamboja. FOTO: ISTIMEWA/SB
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin bersama Supiat asal Barito Selatan yang menjadi korban TPPO di Kamboja. FOTO: ISTIMEWA/SB

SB, JAKARTA – Tawaran pekerjaan dengan iming-iming gaji besar yang beredar di media sosial kembali memakan korban. Kali ini, Supiat, seorang pemuda asal Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) setelah tergiur bekerja di Kamboja melalui jalur yang tidak resmi.

Setelah melalui proses penanganan, Supiat akhirnya berhasil dipulangkan ke Indonesia. Kepulangannya disambut langsung oleh Mukhtarudin di Jakarta sebagai bentuk komitmen pemerintah RI dalam memberikan perlindungan kepada pekerja migran Indonesia yang menjadi korban TPPO.

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin memastikan Supiat memperoleh pendampingan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan kesehatan, pendampingan psikologis, hingga pengawalan oleh petugas BP3MI sampai tiba dengan selamat di kediamannya di Desa Bintang Kurung, Kabupaten Barito Selatan.

Peristiwa yang dialami Supiat menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus perekrutan tenaga kerja ilegal. 

Mukhtarudin mengatakn Saat ini, pelaku TPPO kerap memanfaatkan media sosial dengan menawarkan pekerjaan bergaji tinggi tanpa prosedur yang jelas dan legal.

"Pemerintah RI mengimbau masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri agar selalu menempuh jalur resmi serta melakukan pengecekan legalitas perusahaan, lowongan kerja, negara tujuan, dan kelengkapan dokumen melalui Sistem Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI)," ujarnya. 

Lanjutnya pemerintah menegaskan akan terus hadir memberikan perlindungan kepada seluruh pekerja migran Indonesia.

"Namun, langkah pencegahan tetap menjadi kunci utama agar masyarakat tidak menjadi korban perdagangan orang yang berkedok tawaran pekerjaan dengan gaji menggiurkan," tandasnya. (BY/SB)

 

 

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard