PLN Gandeng MPA Kameloh Baru Budidaya Madu Kelulut, Cegah Karhutla Sambil Cari Cuan
SB, PALANGKA RAYA – Saat musim hujan menghadapi banjir dan ketika kemarau dihantui kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat Kelurahan Kameloh Baru, Kecamatan Sabangau, punya cara untuk bertahan sekaligus meningkatkan pendapatan. Mereka mengembangkan budidaya madu kelulut bersama PT PLN (Persero) UPT Palangka Raya melalui program RINDU KAMU.
Menariknya, program ini bukan hanya berorientasi pada usaha madu. PLN ingin menjadikan budidaya kelulut sebagai pintu masuk pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat kepedulian warga terhadap lingkungan dan keamanan jaringan transmisi listrik. Sebanyak 15 anggota aktif Masyarakat Peduli Api (MPA) Kameloh Baru dilibatkan dalam program tersebut.
Manager PLN UPT Palangkaraya, Eko Prasetyo, mengatakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) itu mengusung konsep Creating Shared Value (CSV), yakni menciptakan manfaat bersama bagi masyarakat, lingkungan dan perusahaan. Pendekatan ini diharapkan membuat kegiatan menjaga lingkungan berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan warga.
“Visi utama kami adalah mengintegrasikan tanggung jawab lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pengamanan objek vital nasional. Kami ingin masyarakat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus semakin terdorong menjaga lingkungan di sekitar jaringan transmisi,” ujar Eko.
Menurutnya, jalur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Selat–Palangkaraya yang melintasi kawasan gambut Kameloh Baru menghadapi risiko gangguan akibat karhutla. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi penting untuk membantu mencegah kebakaran di sekitar jalur transmisi dan menjaga keandalan penyaluran listrik.
Melalui program RINDU KAMU, PLN menyalurkan bantuan 30 stup atau kotak sarang lebah kelulut, peralatan panen higienis, pengujian kadar air madu, hingga pendampingan legalitas dan pengemasan produk. Dukungan tersebut diharapkan membuat usaha warga berkembang lebih profesional dan memiliki peluang menembus pasar yang lebih luas.
PLN juga mendorong agar keuntungan penjualan madu nantinya dapat disisihkan sebagai dana operasional mandiri MPA. Dengan begitu, kelompok masyarakat tersebut memiliki sumber pendanaan tambahan untuk mendukung kegiatan patroli dan menjaga lingkungan, tanpa terus bergantung pada bantuan insidental.
Ditempat yang sama, Camat Sabangau, Teguh Margiono mengapresiasi langkah PLN yang dinilainya memberikan peluang usaha sesuai dengan karakteristik wilayah.
Ia berharap program tersebut tidak berhenti di Kameloh Baru, tetapi dapat dikembangkan di kelurahan lain dengan menyesuaikan potensi dan kondisi masyarakat setempat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PLN UPT Palangkar Rya yang telah memberikan dukungan usaha madu kelulut bagi warga. Kami berharap program ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan nantinya diterapkan di kelurahan lain sesuai dengan kultur wilayahnya,” kata Teguh.
Bagi MPA Kameloh Baru, budidaya kelulut bukan usaha yang dipilih tanpa pertimbangan. Ketua MPA Kameloh Baru, Komaruddin mengungkapkan bahwa program tersebut berawal dari pengajuan kelompoknya setelah melihat kondisi lingkungan dan kebutuhan ekonomi warga.
Selama ini, anggota MPA tidak hanya terlibat dalam pemadaman kebakaran, tetapi juga membantu menjaga aset PLN dari ancaman karhutla.
“Ini bukan bantuan yang tiba-tiba langsung diberikan, tetapi berawal dari pengajuan kami. Sebagai MPA, tugas kami bukan hanya melakukan pemadaman, tetapi juga ikut menjaga aset PLN. Kami berterima kasih karena PLN telah mendukung usaha yang kami usulkan,” ungkap Komaruddin.
Ia menjelaskan, Kameloh Baru memiliki kawasan hutan yang luas dibandingkan jumlah penduduknya. Saat musim hujan, banjir menjadi tantangan, sedangkan pada musim kemarau masyarakat harus mewaspadai kebakaran lahan. Kondisi tersebut membuat kelompoknya mencari usaha yang sesuai dengan potensi lingkungan setempat.
“Kami memilih budidaya kelulut karena melihat kondisi wilayah kami. Saat musim hujan bisa banjir, sedangkan saat kemarau rawan kebakaran lahan. Kami berharap usaha madu ini bisa berkembang dan membantu meningkatkan pendapatan warga,” tuturnya.
Komaruddin berharap bantuan 30 stup dan perlengkapan budidaya tersebut menjadi langkah awal untuk membangun usaha yang berkelanjutan.
Ia ingin hasil penjualan madu kelulut nantinya tidak hanya membantu perekonomian anggota, tetapi juga mendukung kebutuhan operasional kelompok dalam menjalankan tugas menjaga lingkungan.
Dari sisi ekologi, budidaya kelulut juga berpotensi mendukung pengayaan vegetasi dan keanekaragaman hayati melalui pengembangan tanaman pakan lebah. Namun, pengelolaannya tetap harus memperhatikan karakteristik lahan gambut serta ketentuan ruang bebas jaringan transmisi agar kegiatan ekonomi tidak mengganggu keselamatan instalasi listrik.
Program ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara BUMN, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menghadapi persoalan lingkungan. Sebab, pencegahan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan patroli dan pemadaman, tetapi juga membutuhkan keterlibatan warga yang didukung peluang ekonomi berkelanjutan.
Melalui RINDU KAMU, PLN ingin mendorong perubahan masyarakat memperoleh peluang penghasilan dari madu kelulut, sementara kepedulian terhadap lingkungan dan pengamanan jaringan listrik semakin kuat. Dari stup lebah, tumbuh harapan baru bagi ekonomi warga sekaligus upaya menjaga Kalteng dari ancaman karhutla. (sb/*)