Dinkes Kotim Imbau Warga Tak Konsumsi Langsung Air Hujan Hasil OMC
SB, SAMPIT - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi langsung air hujan yang turun pada periode awal Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Imbauan ini disampaikan menyusul hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah Kotim, termasuk Kota Sampit, selama dua hari berturut-turut hingga Rabu (28/10/2026).
Kepala Dinkes Kotim, Umar Kaderi, mengatakan pihaknya menerima informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir berkaitan dengan pelaksanaan OMC.
Menurutnya, proses modifikasi cuaca tersebut menggunakan garam sebagai bahan penyemaian awan. Karena itu, masyarakat disarankan untuk tidak langsung memanfaatkan air hujan sebagai air minum, terutama saat awal hujan turun.
“Kita dapat informasi dari BMKG bahwa sudah beberapa hari ini merupakan hujan dari operasi modifikasi cuaca. Karena yang dimodifikasi itu menggunakan garam, saran kami, pada awal hujan-hujan ini hindari air minum yang bersumber dari air hujan,” kata Umar.
Selain itu, air hujan pada awal periode tersebut juga dikhawatirkan membawa partikel debu dan polutan dari kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang selama beberapa bulan terakhir menyelimuti sejumlah wilayah Kotim.
Umar menjelaskan, masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu perlu lebih berhati-hati terhadap potensi dampak pencemaran lingkungan.
Penderita hipertensi maupun gangguan ginjal diimbau menjaga kondisi kesehatannya dan menghindari paparan yang berpotensi memperburuk penyakit.
“Dampaknya sebenarnya tidak terlalu signifikan, cuma bagi orang yang punya hipertensi, tensinya akan meningkat. Kalau misalnya ada gangguan ginjal, itu bisa memperparah,” ujarnya.
Ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan air hujan yang turun pada awal pelaksanaan OMC sebagai sumber air minum secara langsung. Masyarakat disarankan menggunakan sumber air bersih yang aman untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Sementara itu, hujan yang mengguyur Sampit membawa dampak positif terhadap kondisi lingkungan. Kepekatan kabut asap karhutla mulai berkurang sehingga udara terasa lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Berdasarkan pantauan BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, jarak pandang di Kota Sampit berangsur membaik setelah hujan turun. Pada pukul 10.00 WIB, jarak pandang tercatat mencapai sekitar lima kilometer.
Meski demikian, perbaikan jarak pandang tersebut belum diikuti membaiknya kualitas udara secara signifikan. Berdasarkan pantauan melalui aplikasi ISPU Net, indeks standar pencemar udara (ISPU) di Kotim masih berada pada kategori berbahaya. (f1/sb)