Lewati ke konten utama
Pemko Palangka Raya

Gambut Rawan Terbakar, Fairid Dorong Pembangunan Embung dan Normalisasi Kanal

Redaksi 03-11-2026, 14:01 WIB 2 menit baca
Walikota Palangka Raya, Fairid Naparin
Walikota Palangka Raya, Fairid Naparin

SB, PALANGKA RAYA – Tak ingin kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berulang setiap musim kemarau, Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya mulai menyiapkan langkah pencegahan yang lebih serius. Pembangunan embung baru hingga pembenahan kanal gambut menjadi salah satu solusi yang didorong untuk menjaga kawasan rawan kebakaran tetap basah.

Sejumlah wilayah yang masuk dalam perhatian Pemkot Palangka Raya meliputi Telawang, Kelampangan hingga Buluh Merindu. Kawasan tersebut dinilai membutuhkan penguatan sistem tata air agar lahan gambut tidak kehilangan kelembapan saat musim kemarau.

Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengatakan, penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman ketika api sudah membesar. Upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini, salah satunya dengan memastikan ketersediaan air dan memperbaiki jalur distribusinya ke kawasan gambut.

Rencana tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Pemantauan dan Evaluasi Penanggulangan Karhutla bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq dan Gubernur Kalteng Agustiar Sabran di Palangka Raya.

Fairid mengungkapkan, ada beberapa pekerjaan yang perlu disiapkan, mulai dari pembangunan embung baru, rehabilitasi kanal lama hingga menghubungkan saluran primer yang belum tersambung dengan sungai. Optimalisasi aliran Sungai Sebangau juga menjadi bagian dari rencana tersebut.

“Ada yang membangun baru, ada yang memanfaatkan yang sudah ada. Intinya adalah bagaimana membasahi kembali wilayah-wilayah yang rawan terkena karhutla secara berulang,” kata Fairid.

Salah satu lokasi yang menarik perhatian adalah kawasan Telawang, tepatnya di Jalan Keranggan. Berdasarkan hasil peninjauan, kawasan tersebut memiliki potensi sumber air dengan debit cukup besar. Selain itu, perbedaan elevasi yang relatif rendah dinilai dapat mendukung upaya mengalirkan air untuk pembasahan lahan.

Potensi tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan untuk menjangkau kawasan Telawang, Kelampangan hingga Buluh Merindu. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, air dapat dialirkan secara lebih optimal sehingga kelembapan gambut tetap terjaga.

Meski demikian, Fairid menyebut rencana itu masih harus melalui sejumlah tahapan. Kajian teknis, kesesuaian tata ruang serta kelengkapan administrasi menjadi hal penting sebelum pembangunan embung maupun rehabilitasi kanal direalisasikan.

“Pak Wamenko tadi menyarankan akan ada rapat teknis lanjutan. Beliau menyampaikan gagasan utamanya terlebih dahulu, nanti tentu dilengkapi dengan bahan-bahan dasar administrasi yang mengikutinya,” ujarnya.

Menurut Fairid, menjaga lahan gambut tetap basah merupakan kunci penting dalam menekan risiko karhutla. Sebab, ketika gambut mengering, api bukan hanya mudah membakar permukaan lahan, tetapi juga bisa merambat di bawah tanah dan sulit dipadamkan.

Karena itu, Pemkot Palangka Raya ingin membangun sistem pembasahan yang mampu bekerja secara berkelanjutan. Bukan sekadar menyediakan sumber air, tetapi juga memastikan kanal dan saluran yang ada benar-benar berfungsi menyalurkan air ke kawasan rawan kebakaran.

Jika rencana tersebut terealisasi, diharapkan wilayah yang selama ini menjadi langganan karhutla memiliki perlindungan lebih baik saat musim kemarau. Pemkot pun berharap pembenahan tata air ini menjadi investasi pencegahan agar masyarakat tidak terus menghadapi ancaman kebakaran dan kabut asap setiap tahun. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard