Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Guru di Kotim Sambut Baik Perbup 43 Tahun 2023

Redaksi 19-01-2024, 07:13 WIB 2 menit baca
Sejumlah guru saat menghadiri kegiatan. (FOTO:ISTIMEWA)
Sejumlah guru saat menghadiri kegiatan. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, SAMPIT - Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 2 Baamang Hilir Wahyudansyah mengatakan Perbup Nomor 43 tahun 2023 membuat para guru bisa menyesuaikan cara belajarnya dengan kebutuhan anak didiknya.

"Secara umum kami menyambut baik Perbup ini karena membuat guru lebih leluasa untuk menyesuaikan kebutuhan murid dalam proses belajar mengajar," ungkap Wahyudansyah.

Wahyudansyah menambahkan, dengan disahkannya Perbup ini para guru juga memiliki dasar hukum untuk mewujudkan siswa berkarakter pancasila.

Meski begitu beberapa guru di SDN 2 Baamang Hilir masih perlu waktu adaptasi untuk bisa mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar ini. Selain itu administrasi yang harus diselesaikan para guru di kurikulum merdeka belajar ini mayoritas menggunakan aplikasi.

Hal ini membuat sebagian guru belum terlalu paham terutama guru yang mendekati masa pensiun. Guru-guru di SDN 2 Baamang Hilir beharap akan ada bimbingan teknis (Bimtek) terkait administrasi pada kurikulum merdeka belajar ini.

Kepala Sekolah SMPN 1 Sampit Suyono juga menyambut baik Perbup baru ini. Dirinya bersyukur kini guru di Kotim memiliki dasar hukum dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar.

"Perbup ini merupakan aturan turunan dari Permendikbudristek sehingga membuat dasar hukum pengelolaan kurikulum di Kotim menjadi lebih kuat," ujar Suyoso.

Lebih lanjut dirinya menyebut dengan disahkannya Perbup nomor 43 tahun 2024 membuat pelaksanaan kurikulum merdeka menjadi lebih kontekstual.

"Karena Perbup ini mengatur khusus Kotim sehingga implementasi kurikulum merdeka belajar menjadi lebih terarah karena sudah disesuaikan dengan kondisi di Kotim," jelas Suyoso.

Pria yang juga dikenal sebagai mister Yos atau Pak Yos ini tak menampik di SMPN 1 Sampit juga ada guru senior yang terkendala administrasi. Menyiasati hal tersebut Suyoso membentuk tim kolabarasi yang di pimpin 11 guru untuk mendampingi 60 guru di SMPN 1 Sampit.

Jadi satu orang guru akan mendampingi lima sampai enam guru untuk menyelesaikan administrasi kurikulum merdeka, jadi guru senior tidak terlalu dibebani karena ada yang membantu," tutup Suyoso.

Peran guru penggerak yang ada di SMPN 1 Sampit juga membuat para guru di SMPN 1 Sampit sudah siap mengimplementasikan kurikulum merdeka.

"Jadi tidak ada perbedaan konsep kurikulum merdeka di SMPN 1 Sampit karena ada guru penggerak yang sudah lama," tukas Suyoso. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard