Kotim Harus Miliki Alat Biodigester, Pemidahan Sampah ke TPA Hanya Memindah Masalah
SB, SAMPIT - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Machmoer mengatakan, biodigester bisa menjadi solusi penumpukan sampah organik di wilayah setempat.
"Kami sempat bertemu dengan direktur PPA bahwa di KLHK ada inovasi sampah bukan plastik atau sampah organik digunakan untuk gas metana untuk memasak," kata Machmoer, Selasa, 16 Januari 2024.
Untuk diketahui biodigester merupakan alat yang digunakan untuk mengubah limbah organik menjadi biogas. Biogas merupakan salah satu energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari mulai seperti memasak hingga kebutuhan listrik.
Machmoer juga mengatakan, banyaknya limbah organik yang dihasilkan oleh masyarakat Kotim didominasi limbah rumah tangga.
"Saya menilai pemindahan sampah dari kota ke tempat pembuangan akhir (TPA) hanya memindahkan masalah,” ujarnya.
Berdasarkan data autentik DLH Kotim, hususnya Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang hampir 60.000 penduduk menghasilkam kurang lebih sekitar 276 meter kubik sampah per hari di mana lahan yang diperlukan 46 meter persegi. Sehingga dalam satu tahun pihaknya harus menyiapkan lahan kurang lebih 13.800 meter persegi.
Pihaknya juga menilai teknologi biodigester mengolah 100 kilogram sampah organik untuk menghasilkan gas metana dengan 5 jam operasional 3 kompor untuk menanggung 200 jiwa tanpa henti.
"Harga alatnya sekotar Rp 200 juta seperti profil tank dengan sistem konvensional nantinya sampah dipilah dimasukkan menjadi gas metana. Semoga bisa terlaksana," harapnya (f1/sb)