Lewati ke konten utama
Provinsi

PERLUNYA KENAIKAN CUKAI ROKOK DEMI KESEHATAN DAN MASA DEPAN BANGSA

Redaksi 23-12-2024, 10:55 WIB 5 menit baca
dr. Noorliyana
dr. Noorliyana

SB, SAMPIT - Dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan mengenai kebijakan cukai rokok di Indonesia telah menjadi semakin relevan. Mengingat dampak kesehatan dan sosial yang ditimbulkan oleh konsumsi rokok, sudah saatnya kita mendorong pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Kebijakan penyesuaian ini bukan hanya berfungsi sebagai upaya pengendalian konsumsi rokok, tetapi juga sebagai langkah untuk meningkatkan pendapatan negara dan mendanai berbagai program Kesehatan yang ada di masyarakat.

Perokok di Indonesia mencakup berbagai kalangan dan usia, dengan prevalensi yang cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain. Prevalensi perokok aktif di Indonesia terus meningkat, Berdasarkan Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan bahwa jumlah perokok aktif diperkirakan mencapai 70 juta orang, dengan 7,4% di antaranya perokok berusia 10-18 tahun.

Kelompok anak dan remaja merupakan kelompok dengan peningkatan jumlah perokok yang paling signifikan. Berdasarkan data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) pada 2019, prevalensi perokok pada anak sekolah usia 13-15 tahun naik dari 18,3% (2016) menjadi 19,2% (2019). Sementara itu, data SKI 2023 menunjukkan bahwa kelompok usia 15-19 tahun merupakan kelompok perokok terbanyak (56,5%), diikuti usia 10-14 tahun (18,4%). Angka tersebut menunjukkan bahwa rokok telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik sebagai gaya hidup maupun sebagai pilihan yang sulit untuk ditinggalkan. Hal ini menimbulkan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung, kanker, dan gangguan pernapasan. Bukan hanya bagi perokok aktif, tetapi juga bagi perokok pasif yang terpapar asap rokok. Menurut hasil studi yang dilakukan oleh kemenkes menyebutkan bahwa ada total 4,9 juta kasus penyakit akibat rokok dengan 209.429 kematian pada tahun 2017. Selain itu terdapat pula 21 jenis penyakit yang disebabkan oleh penggunaan produk tembakau dan 11 diantaranya merupakan penyakit kanker.

Salah satu alasan utama untuk menaikkan cukai rokok adalah untuk mengurangi angka konsumsi. Penelitian menunjukkan bahwa kenaikan harga rokok dapat mempengaruhi perilaku merokok, terutama di kalangan remaja dan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Ketika harga rokok meningkat, banyak individu akan berpikir dua kali sebelum membeli, dan beberapa dari mereka mungkin akan memilih untuk berhenti merokok atau mengurangi frekuensi merokok mereka. Hal ini mmerupakan langkah penting dalam menurunkan prevalensi merokok di Indonesia, yang selaras dengan tujuan kesehatan masyarakat.

Dalam konteks ini, beberapa negara telah menerapkan kebijakan cukai rokok yang efektif, Misalnya, Australia dan Inggris yang telah berhasil mengurangi jumlah perokok dengan meningkatkan cukai rokok secara signifikan. Kebijakan tersebut tidak hanya membantu menurunkan angka perokok, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan pendapatan pemerintah. Pendapatan dari pajak rokok tersebut dapat dialokasikan untuk mendanai program-program kesehatan, termasuk kampanye antirokok, perawatan kesehatan untuk penyakit yang disebabkan oleh merokok, dan edukasi masyarakat tentang bahaya merokok.

Penting untuk dicatat bahwa peningkatan cukai rokok juga dapat membantu meminimalisir dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh konsumsi rokok. Biaya kesehatan akibat penyakit yang ditimbulkan oleh rokok sangat besar. Menurut data dari Kementerian Kesehatan, biaya yang dikeluarkan untuk perawatan penyakit terkait rokok mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya. biaya kesehatan untuk penanganan penyakit akibat rokok tahun 2020 yang menyebutkan bahwa pada tahun 2017 penerimaan dari cukai hasil tembakau sebanyak Rp147,7 triliun, sedangkan nilai kerugian ekonomi makro yang timbul akibat konsumsi rokok mencapai Rp 431,8 triliun. Dengan meningkatkan cukai rokok, pendapatan pemerintah yang diperoleh dapat digunakan untuk menutupi sebagian dari biaya ini, sehingga mengurangi beban anggaran negara.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ada tantangan dalam menerapkan kebijakan ini. Salah satu argumen yang sering dilontarkan oleh para pengusaha rokok adalah bahwa peningkatan cukai akan berdampak pada penurunan lapangan kerja di industri rokok. Meskipun ada kebenaran dalam hal ini, kita perlu mempertimbangkan bahwa kesehatan masyarakat seharusnya menjadi prioritas utama. Selain itu, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyediakan alternatif pekerjaan bagi mereka yang terdampak. Diversifikasi ekonomi dan peningkatan pelatihan keterampilan di sektor lain bisa menjadi solusi untuk mengatasi dampak negatif dari kebijakan ini.

Pendidikan dan kesadaran masyarakat juga perlu ditingkatkan bersamaan dengan peningkatan cukai rokok. Program edukasi yang efektif akan membantu masyarakat memahami dampak negatif dari merokok dan manfaat berhenti merokok. Selain itu, kampanye yang menargetkan remaja dan anak muda harus semakin digencarkan, agar mereka tidak terjebak dalam kebiasaan merokok sejak dini. Pengurangan jumlah perokok muda adalah kunci untuk menciptakan generasi yang lebih sehat di masa depan.

Satu lagi aspek yang perlu diperhatikan adalah pengawasan dan penegakan hukum terkait penjualan rokok. Meskipun cukai dinaikkan, tanpa pengawasan yang ketat, kemungkinan adanya pasar gelap dan penjualan rokok ilegal akan meningkat. Ini justru akan merugikan kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Oleh karena itu, perlu ada koordinasi antara berbagai instansi pemerintah untuk memastikan bahwa setiap kebijakan yang dikeluarkan dapat dilaksanakan dengan baik dan efektif.

Dari sisi sosial, kita juga perlu mempertimbangkan dampak psikologis dari kebiasaan merokok. Banyak perokok yang merasa terjebak dalam kebiasaan tersebut, dan peningkatan cukai bisa menjadi momen bagi mereka untuk memikirkan kembali pilihan hidup mereka. Dukungan dari keluarga, teman, dan masyarakat luas sangat penting dalam membantu mereka untuk berhenti merokok. Dengan adanya kebijakan yang mendukung, seperti program konseling dan akses ke terapi pengganti nikotin, perokok akan memiliki lebih banyak sumber daya untuk berpindah dari kebiasaan merokok menuju gaya hidup yang lebih sehat.

Selain itu untuk mewujudkan hal ini, kita juga perlu mendorong kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi non-pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kebijakan ini. Keberhasilan dalam menurunkan angka perokok tidak hanya bergantung pada kebijakan cukai, tetapi juga pada upaya kolektif untuk menciptakan kesadaran dan perubahan perilaku di masyarakat.

Sebagai penutup, mendorong pemerintah untuk menaikkan cukai rokok adalah langkah penting dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang terus berkembang di Indonesia. Dengan meningkatkan cukai, kita tidak hanya berupaya untuk menurunkan angka konsumsi rokok, tetapi juga untuk meningkatkan pendapatan negara yang dapat digunakan untuk program-program kesehatan masyarakat yang sangat dibutuhkan. Diperlukan sinergi antara berbagai pihak untuk menyukseskan kebijakan ini, dan setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih sehat. Mari kita dukung upaya pemerintah dalam meningkatkan cukai rokok demi kesehatan bangsa kita.

Penulis: dr. Noorliyana 

Tugas Mata Kuliah: Ekonomi Kesehatan, Program Studi Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Peminatan Daerah, Universitas Indonesia Maju 2024

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard