Lewati ke konten utama
DPRD Palangka Raya

DPRD Palangka Raya Soroti Dampak Ekonomi dan Sosial Program Makan Bergizi Gratis

Redaksi 25-09-2025, 05:19 WIB 2 menit baca
Dede Ardiansyah
Dede Ardiansyah

SB, PALANGKA RAYA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan oleh pemerintah pusat mendapatkan perhatian khusus dari DPRD Kota Palangka Raya. Anggota DPRD, Dede Ardiansyah, menilai program ini bukan hanya penting untuk peningkatan gizi anak-anak sekolah, tetapi juga memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi lokal dan meringankan beban masyarakat.

“Penyediaan ribuan porsi makanan setiap harinya tentu menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan. Akan lebih baik jika manfaat ini juga menyentuh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari peternak telur, pemasok daging, hingga pedagang buah,” ungkap Dede, Kamis (25/9/2025).

Dede menekankan pentingnya pengawasan kualitas gizi dan evaluasi dampak program. Menurutnya, perlu dilakukan penimbangan berat badan siswa secara berkala untuk mengetahui sejauh mana program MBG berdampak pada kesehatan anak-anak.

“Melalui pengukuran seperti ini, kita bisa melihat apakah ada peningkatan status gizi dan kesehatan anak setelah menerima makanan bergizi setiap hari di sekolah,” jelasnya.

Politisi muda ini juga menyoroti aspek sosial dan ekonomi keluarga dalam implementasi program. Ia mencatat bahwa banyak orang tua masih memberikan uang jajan dalam jumlah yang sama seperti sebelum program MBG diterapkan.

“Jika sebelumnya anak mendapat uang jajan Rp10 ribu, seharusnya bisa dikurangi menjadi Rp5 ribu, karena kebutuhan pokok berupa makan sudah dipenuhi di sekolah. Bahkan, dalam beberapa kasus, mungkin anak tidak perlu diberi uang jajan sama sekali,” ujarnya.

Menurut Dede, hal ini perlu diedukasi kepada masyarakat agar manfaat program benar-benar optimal dan beban ekonomi keluarga bisa ditekan.

DPRD juga mendorong adanya pengawasan ketat terhadap dapur-dapur penyedia makanan yang saat ini jumlahnya cukup banyak di Palangka Raya. Dede menekankan bahwa seluruh proses, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga pengemasan makanan harus sesuai standar kesehatan dan keamanan pangan.

“Beras yang digunakan harus berkualitas premium, daging dan buah harus segar, serta semua bahan makanan wajib memenuhi standar kesehatan. Jangan sampai ada kasus keracunan karena kelalaian,” tegasnya.

Dede Ardiansyah menutup pernyataannya dengan harapan bahwa pengawasan yang ketat dan edukasi menyeluruh dapat menjadikan program ini tidak hanya sukses di atas kertas, tetapi benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi anak-anak dan masyarakat luas.

“Kalau program ini berjalan dengan baik, kita tidak hanya mencetak anak-anak yang sehat dan cerdas, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal dan meringankan beban masyarakat,” pungkasnya. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard