PDAM Tirta Mentaya Siap Hadapi Ancaman Kekeringan
SB, SAMPIT - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mentaya Sampit mulai mengantisipasi dampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi mengganggu ketersediaan serta kualitas air baku di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Direktur PDAM Tirta Mentaya, Ismanadi, mengungkapkan bahwa penurunan debit sungai sudah mulai dirasakan dan berdampak pada proses distribusi air bersih, khususnya di wilayah selatan.
“Penurunan debit sungai sudah mulai mengganggu operasional penyaluran air bersih, saat ini juga kami sudah merasakannya di daerah selatan,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, proses produksi air bersih sangat bergantung pada kondisi pasang surut sungai. Ketika debit air menurun, pihaknya harus menunggu momen air pasang untuk memperoleh air baku yang kemudian diolah.
“Ketika air pasang masuk, baru kami bisa menyediakan air baku untuk diproses menjadi air bersih,” jelasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan, terutama saat musim kemarau dan terjadinya karhutla, memberikan tekanan besar terhadap sistem penyediaan air bersih yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah ini diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada September 2026, dengan puncaknya terjadi pada Oktober 2026.
Menghadapi potensi tersebut, PDAM Tirta Mentaya telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif guna menjaga kelancaran layanan kepada pelanggan.
“Kami melakukan langkah preventif dan responsif untuk menjaga kontinuitas pelayanan air kepada masyarakat,” tambah Ismanadi.
Upaya ini diharapkan mampu mengurangi dampak gangguan distribusi sekaligus menjaga kualitas air yang disalurkan, meskipun tantangan akibat kondisi alam yang tidak menentu terus berlangsung.
Situasi ini juga menjadi pengingat pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat dalam menjaga serta mengelola sumber daya air secara berkelanjutan di tengah ancaman perubahan iklim dan bencana alam. (f1/sb)