Lewati ke konten utama
Provinsi

Mahasiswa UPR Utamakan Kualitas, Tak Persoalkan Asal Daerah Calon Rektor

Redaksi 21-04-2026, 09:51 WIB 2 menit baca
Tim Survei In-Depth Politics menunjukan indeks kriteria pemimpin kampus di UPR. (FOTO:ISTIMEWA)
Tim Survei In-Depth Politics menunjukan indeks kriteria pemimpin kampus di UPR. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, PALANGKA RAYA – Hasil survei terbaru di lingkungan Universitas Palangka Raya (UPR) menunjukkan bahwa mahasiswa semakin rasional dalam menentukan kriteria pemimpin kampus. Mereka tidak lagi menjadikan asal daerah sebagai faktor utama, melainkan lebih menekankan kualitas, kapasitas, dan integritas calon rektor.

Survei yang dilakukan oleh In-Depth Politics pada 8-14 Maret 2026 ini melibatkan 1.035 responden dari delapan fakultas, menggunakan metode stratified random sampling dengan margin of error 3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Ketua Tim Survei, Roby Krystianto, mengungkapkan bahwa sebanyak 88,32 persen mahasiswa menyatakan tidak mempermasalahkan apakah calon rektor berasal dari putra daerah atau luar daerah.

“Ini menunjukkan bahwa mahasiswa lebih mengutamakan kompetensi dibanding latar belakang geografis. Yang penting adalah kemampuan memimpin dan membawa perubahan,” ujarnya.

Meski demikian, survei juga mencatat bahwa 80,45 persen responden tetap berharap calon rektor berasal dari internal UPR. Hal ini lebih didasarkan pada pertimbangan pemahaman terhadap kultur akademik dan dinamika kampus, bukan semata-mata faktor kedaerahan.

Dalam hal kriteria utama, mahasiswa menempatkan integritas sebagai aspek paling penting. Sebanyak 95,10 persen responden menginginkan rektor yang memiliki rekam jejak bersih dari praktik korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), serta plagiarisme.

Selain itu, sebanyak 60,22 persen responden mengharapkan sosok pemimpin yang inovatif dan visioner, mampu menjawab tantangan perubahan di dunia pendidikan tinggi.

Di sisi lain, kebutuhan akan perbaikan fasilitas kampus juga menjadi perhatian besar. Sebanyak 78,21 persen mahasiswa menilai sarana dan prasarana harus menjadi prioritas utama bagi rektor terpilih.

Mahasiswa juga berharap adanya peningkatan dukungan terhadap penelitian, pengembangan kompetensi, serta akses program hibah guna menciptakan ekosistem akademik yang lebih produktif dan kompetitif.

Dari segi komunikasi, mahasiswa menginginkan hubungan yang lebih terbuka antara pimpinan kampus dan civitas akademika. Sebanyak 67,43 persen responden memilih media sosial sebagai sarana komunikasi efektif, sementara 96,18 persen menilai forum diskusi terbuka atau town hall meeting perlu rutin dilaksanakan.

Selain itu, latar belakang akademik tetap menjadi pertimbangan penting. Sebanyak 95,32 persen responden menginginkan rektor berasal dari kalangan Guru Besar (Profesor), yang dinilai memiliki kapasitas keilmuan yang kuat.

Secara keseluruhan, survei ini menegaskan bahwa mahasiswa UPR lebih mengedepankan kualitas kepemimpinan dibanding identitas kedaerahan. Sosok ideal yang diharapkan adalah “scholar-leader”, yakni pemimpin berintegritas, berwawasan luas, serta mampu membawa perubahan nyata bagi kemajuan kampus.

Hasil survei ini diharapkan menjadi acuan bagi para calon rektor dalam merumuskan visi dan program kerja, sekaligus mencerminkan harapan mahasiswa terhadap masa depan UPR yang inklusif dan berdaya saing tinggi. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard