Lewati ke konten utama
Provinsi

Masa Panen, Petani di Lampuyang Kesulitan Mendapatkan BBM

Redaksi 22-04-2026, 08:46 WIB 1 menit baca
Pertanian masyarakat di Kabupaten Kotim kesulitan mendapatkan BBM. (FOTO: ISTIMEWA)
Pertanian masyarakat di Kabupaten Kotim kesulitan mendapatkan BBM. (FOTO: ISTIMEWA)

SB, SAMPIT - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis dexlite menjadi ancaman serius bagi para petani di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Di tengah momentum penting masa panen, para petani justru dihadapkan pada kesulitan memperoleh BBM dengan harga terjangkau.

Sejumlah lahan pertanian saat ini telah memasuki masa panen, ditandai dengan padi yang mulai menguning. Namun, keterbatasan pasokan BBM berdampak langsung pada operasional alat pertanian, seperti mesin perontok dan pengering, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian bagi petani.

“Kalau BBM kosong, panen jadi terhambat. Gabah bisa rontok di sawah karena operasional susah,” ujar seorang petani Arfain, Rabu (22/4/2026).

Ia menjelaskan, setelah panen tahap pertama selesai, para petani harus segera mempersiapkan musim tanam berikutnya. Proses pengolahan lahan, mulai dari membajak hingga memperbaiki saluran irigasi, sangat bergantung pada ketersediaan BBM.

“Setelah panen, kami harus langsung olah lahan lagi untuk tanam kedua. Semua butuh BBM, dari bajak sampai perbaikan irigasi,” jelasnya.

Menurut Arfain, kondisi ini semakin memberatkan petani karena harga BBM di tingkat pengecer tidak resmi melambung tinggi, sementara harga jual padi tidak mengalami kenaikan.

“Dengan harga BBM yang mahal dan stok yang sulit didapat, kami jadi kesulitan. Harga padi juga tidak ikut naik,” tambahnya.

Kelangkaan BBM di desa tersebut juga diperparah dengan tidak adanya pengecer resmi. Akibatnya, petani terpaksa membeli dari pihak tidak resmi dengan harga tinggi atau harus menempuh jarak puluhan kilometer ke kota untuk mendapatkan BBM.

“Dexlite langka, apalagi solar subsidi,” keluhnya.

Para petani berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk memastikan ketersediaan BBM bersubsidi bagi sektor pertanian. Mereka khawatir, jika kondisi ini terus berlanjut, tidak hanya panen tahap pertama yang terancam gagal, tetapi juga musim tanam berikutnya.

“Mudah-mudahan segera ada tindakan dari pemerintah,” pungkas Arfain. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard