Bibit Langka, Pupuk Menumpuk: Program Cetak Sawah di Kalteng Tersendat
SB, PALANGKA RAYA – Program cetak sawah yang digadang-gadang menjadi solusi peningkatan ketahanan pangan di Kalimantan Tengah (Kalteng) justru menghadapi kendala serius di lapangan. Sejumlah warga di wilayah pedesaan mengeluhkan belum bisa memulai masa tanam akibat kelangkaan bibit padi, meskipun pupuk tersedia dalam jumlah cukup.
Permasalahan ini mencuat di Kecamatan Banama Tingang dan Desa Pajar, di mana sebagian lahan cetak sawah telah rampung dikerjakan, namun belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Tommy Irawan Diran, menyoroti kondisi tersebut sebagai bentuk ketidaksinkronan dalam pelaksanaan program strategis nasional di daerah.
“Ada beberapa masyarakat yang berkeluh kesah soal program cetak sawah. Di sana ada yang sudah selesai, ada juga yang belum. Tetapi informasi yang saya dapat, bibitnya belum ada, belum bisa tanam, sementara pupuknya sudah ada,” ujarnya, belum lama ini.
Menurutnya, kondisi ini terbilang tidak lazim. Dalam praktik pertanian, keberadaan bibit merupakan kebutuhan utama sebelum proses pemupukan dilakukan. Ketidaksesuaian distribusi ini dinilai dapat berdampak langsung pada produktivitas petani.
“Saya sempat tanya ke kepala desa soal pupuk. Dijawab ada dan disimpan. Nah, kalau bibitnya tidak kunjung tersedia selama berbulan-bulan, bagaimana petani bisa mulai tanam? Bahkan pupuk itu bisa saja rusak karena tidak digunakan,” tegasnya.
Program cetak sawah sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam membuka lahan pertanian baru guna memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun, Tommy menilai implementasi di lapangan masih membutuhkan perbaikan, khususnya dalam hal distribusi sarana produksi pertanian.
Ia pun mendesak dinas terkait, terutama instansi yang membidangi tanaman pangan, untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh dan mempercepat penyaluran bibit kepada petani.
“Program ini bagus dan sangat dibutuhkan masyarakat. Tapi pelaksanaannya harus tepat sasaran dan terkoordinasi dengan baik. Jangan sampai petani dirugikan karena masalah teknis seperti ini,” katanya.
Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah agar program cetak sawah benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Koordinasi harus diperkuat, sehingga tidak terjadi lagi ketimpangan antara ketersediaan bibit dan pupuk. Kalau ini bisa dibenahi, saya yakin program cetak sawah akan berhasil dan meningkatkan kesejahteraan petani,” pungkasnya. (sb/*)