Ketua DPRD Kotim Soroti Drainase Tertutup Bangunan, Banjir Kota Sampit Kian Parah Saat Hujan
SB, SAMPIT – Banjir yang beberapa kali merendam sejumlah kawasan di Kota Sampit dalam beberapa pekan terakhir mendapat perhatian serius dari Ketua DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rimbun. Ia menilai persoalan banjir tidak hanya dipicu tingginya curah hujan, tetapi juga diperparah kondisi drainase yang tidak berfungsi optimal.
Menurut Rimbun, banyak saluran air di kawasan perkotaan mengalami penyempitan bahkan tertutup bangunan dan warung milik warga. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air terhambat sehingga genangan mudah terjadi ketika hujan deras mengguyur wilayah Kota Sampit.
“Permasalahan banjir ini bukan hanya soal hujan tinggi, tetapi juga karena banyak drainase yang tidak bisa berfungsi maksimal akibat tertutup bangunan,” ujar Rimbun, Senin (25/5/2026).
Ia mengungkapkan, pemerintah daerah sebenarnya terus melakukan upaya normalisasi dan pembersihan drainase di sejumlah titik rawan banjir. Namun, pelaksanaan di lapangan sering menemui hambatan karena adanya penolakan dari masyarakat.
“Ketika pemerintah ingin membersihkan atau membuka drainase, ada masyarakat yang keberatan karena di atasnya berdiri warung atau bangunan. Bahkan ada yang meminta ganti rugi jika bangunannya dibongkar,” katanya.
Politisi tersebut menegaskan, kondisi drainase yang tertutup membuat petugas kesulitan melakukan pembersihan saluran air. Akibatnya, sedimentasi dan sampah menumpuk sehingga air meluap ke jalan maupun permukiman warga saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Kalau drainase tidak bisa dibersihkan, air pasti terhambat dan akhirnya meluber ke mana-mana. Ini yang menyebabkan banjir di beberapa titik perkotaan semakin sering terjadi,” tegasnya.
Rimbun menilai penanganan banjir tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah semata. Ia meminta masyarakat ikut mendukung upaya pemerintah dengan menjaga kebersihan lingkungan serta tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air.
“Kesadaran masyarakat sangat penting. Pemerintah akan terus bekerja, tetapi masyarakat juga harus ikut menjaga lingkungan dan mendukung penataan drainase,” ucapnya.
Ia juga mengajak masyarakat menghidupkan kembali budaya gotong royong dengan rutin membersihkan drainase di lingkungan masing-masing agar aliran air tetap lancar selama musim hujan.
“Jangan sampai drainase penuh sampah lalu pemerintah terus yang disalahkan. Menjaga lingkungan ini tanggung jawab bersama,” katanya.
Rimbun menyebut sejumlah kawasan yang kerap terdampak banjir berada di wilayah Baamang hingga sepanjang Jalan Cilik Riwut. Di lokasi tersebut masih banyak ditemukan saluran drainase yang tertutup bangunan maupun mengalami penyempitan.
“Terutama di kawasan Cilik Riwut dan beberapa titik lainnya yang drainasenya tertutup bangunan sehingga aliran air tidak berjalan maksimal,” ungkapnya.
Selain banjir di wilayah perkotaan, Rimbun juga menyoroti kondisi banjir di daerah hulu Kotim yang dipicu meningkatnya debit air sungai saat curah hujan tinggi.
“Kalau di wilayah hulu, kenaikan air bisa mencapai 50 sampai 70 sentimeter karena adanya pertemuan debit dari dua aliran sungai,” pungkasnya. (sb/*)