Lewati ke konten utama
Pemkab Lamandau

Petani Sawit Lamandau Keluhkan Selisih Timbangan Peron, Desak Pemkab Turun Tangan Awasi Kalibrasi

Redaksi 16-06-2026, 03:06 WIB 2 menit baca
Salah satu lokasi pembelian tandan buah segar (TBS) sawitsawit, Selasa (16/6/2026). FOTO: ISTIMEWA/SB
Salah satu lokasi pembelian tandan buah segar (TBS) sawitsawit, Selasa (16/6/2026). FOTO: ISTIMEWA/SB

SB, NANGA BULIK– Masyarakat petani kelapa sawit di sejumlah desa di Kabupaten Lamandau berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait segera melakukan pengawasan dan kalibrasi terhadap timbangan peron pembelian tandan buah segar (TBS) sawitsawit, Selasa (16/6/2026). 

Keluhan ini muncul karena adanya perbedaan hasil timbangan antarperon yang dinilai cukup signifikan dan berpotensi merugikan petani. Akibatnya, sebagian petani memilih menjual hasil panennya ke peron yang lokasinya lebih jauh karena dianggap memiliki timbangan yang lebih akurat.

Keluhan tersebut disampaikan petani dari beberapa wilayah, di antaranya Desa Sumber Cahaya yang memiliki sekitar lima peron, Desa Sungai Buluh dengan tiga peron, serta Desa Tangga Batu di Kecamatan Belantikan Raya.

Salah seorang warga Desa Sungai Buluh, Sutajab, mengatakan harga TBS sawit saat ini masih tergolong baik, yakni rata-rata sekitar Rp 3.100 per kilogram. Namun, yang menjadi persoalan utama bukan harga, melainkan perbedaan hasil timbangan yang dinilai tidak wajar.

"Kalau harga per kilogram masih di atas Rp3.000 tentu petani masih merasa aman. Yang menjadi masalah adalah selisih timbangannya. Antarperon sering berbeda jauh, sehingga petani merasa dirugikan," ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan keresahan di kalangan petani karena hasil panen yang seharusnya memiliki berat yang sama justru menunjukkan angka berbeda ketika ditimbang di peron yang berbeda.

Petani menilai lemahnya pengawasan terhadap alat timbang menjadi salah satu penyebab munculnya perbedaan tonase tersebut. Mereka berharap pemerintah daerah melalui instansi yang berwenang dapat melakukan pengecekan dan pengawasan rutin serta memastikan seluruh timbangan peron telah dikalibrasi sesuai standar.

"Kami meminta pemerintah daerah turun langsung melakukan pengawasan. Jangan sampai petani terus dirugikan karena alat timbang yang tidak akurat," kata Sutajab.

Masyarakat berharap langkah pengawasan dan kalibrasi timbangan dapat segera dilakukan guna menciptakan keadilan bagi petani sawit, meningkatkan kepercayaan terhadap peron pembelian TBS, serta menjaga stabilitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Lamandau.

Salah satu Petani sawit Sutajab berharap Dengan adanya pengawasan yang ketat, petani berharap tidak lagi menemukan perbedaan tonase yang mencolok antarperon sehingga hasil panen yang mereka jual dapat dihargai secara adil dan transparan.(SB/BY)

 

 

 

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard