seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Tangis Keluarga Pecah, Aipda Yudhi Gugur saat Jalani Tugas Gerebek Bandar Sabu

by Redaksi - Tanggal 02-07-2026,   jam 21:46:00
Jasad korban Aipda Yudhi Perdana Putra ketika tiba di Rumah Sakit Bhayangkara. (FOTO: ISTIMEWA) Jasad korban Aipda Yudhi Perdana Putra ketika tiba di Rumah Sakit Bhayangkara. (FOTO: ISTIMEWA)

SB, PALANGKA RAYA – Suasana duka masih menyelimuti keluarga Aipda Yudhi Perdana Putra, anggota kepolisian yang gugur saat menjalankan tugas dalam penggerebekan bandar sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan. Kepergian almarhum meninggalkan luka mendalam, terlebih ia meninggalkan seorang istri dan anak yang masih kecil.

Paman almarhum, Labih, mengaku keluarga menerima kabar duka tersebut dari grup WhatsApp. Saat itu, orang tua korban belum langsung mengetahui peristiwa tersebut karena sedang berada di Banjarmasin untuk menjalani kontrol kesehatan. Keluarga baru menyampaikan kabar meninggalnya Aipda Yudhi kepada kedua orang tuanya pada siang hari.

"Kami tahunya juga dari grup WhatsApp. Orang tuanya baru kami kabari siang tadi karena saat kejadian mereka sedang kontrol ke Banjarmasin," ujar Labih, Kamis (2/7/2026).

Saat melihat jenazah, keluarga hanya dapat menyaksikan luka yang cukup parah di bagian kepala, wajah, dan tangan. Menurut Labih, darah masih terlihat mengalir dari tangan almarhum ketika jenazah berada di rumah sakit Bhayangkara. Namun, keluarga tidak mengetahui secara pasti penyebab luka tersebut karena tidak berada di lokasi kejadian.

"Yang kami lihat hanya luka di kepala, beberapa bagian wajah, dan tangan. Darahnya masih menetes di lantai. Penyebab pastinya kami tidak tahu karena kami tidak ada di lokasi," katanya.

Labih menjelaskan, Aipda Yudhi telah cukup lama mengabdi sebagai anggota Polri dan selama ini bertugas di wilayah Kabupaten Katingan. Meski tidak mengingat secara pasti tahun penerimaannya, ia memperkirakan almarhum telah berdinas lebih dari sepuluh tahun sebelum akhirnya gugur saat menjalankan tugas negara.

Di tengah rasa kehilangan, keluarga berharap tragedi yang merenggut nyawa Aipda Yudhi menjadi pelajaran bagi semua pihak tentang besarnya bahaya narkoba. Menurutnya, peredaran narkotika bukan hanya mengancam masyarakat, tetapi juga membahayakan aparat yang berjuang memberantasnya.

"Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menjauhi narkoba. Luar biasa dampaknya. Bukan hanya masyarakat, anggota yang bertugas memberantasnya pun bisa menjadi korban," ucapnya dengan suara lirih.

Terkait proses hukum maupun penanganan kasus, keluarga memilih menyerahkan sepenuhnya kepada institusi kepolisian. Saat ini, mereka masih fokus mengurus jenazah dan menunggu proses autopsi sebelum memutuskan lokasi pemakaman. Diketahui, almarhum meninggalkan seorang istri dan seorang anak yang masih berusia balita, yang kini harus menerima kenyataan pahit kehilangan sosok ayah dan suami yang gugur saat mengemban amanah negara. (sb/*)