Lewati ke konten utama
Provinsi

Diserang Isu Negatif, Prof Bhayu Pilih Fokus Bangun UPR dan Tolak Politik Saling Serang

Redaksi 16-07-2026, 16:04 WIB 2 menit baca
Prof Bhayu Rhama
Prof Bhayu Rhama

SB, PALANGKA RAYA – Dinamika pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026-2030 terus menjadi perhatian. Di tengah munculnya berbagai isu dan narasi negatif yang menyeret nama sejumlah kandidat, termasuk Prof. Bhayu Rhama, ia memilih tidak larut dalam polemik dan tetap fokus menjalankan tugas sebagai akademisi.

Di sela kesibukannya sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPR, Prof. Bhayu menegaskan bahwa kontestasi pemilihan rektor seharusnya menjadi ruang adu gagasan, bukan ajang saling menyerang ataupun menyebarkan opini yang berpotensi memecah persatuan civitas akademika.

"Ketika banyak energi habis untuk saling menyerang, saya memilih menggunakan energi itu untuk berpikir bagaimana UPR bisa lebih maju dan lebih bermanfaat bagi masyarakat," ujar Prof. Bhayu.

Meski namanya beberapa kali dikaitkan dengan berbagai isu yang beredar di media sosial maupun grup percakapan, Prof. Bhayu mengaku tidak ingin membalas dengan cara yang sama. Baginya, rekam jejak, karya, serta pengabdian kepada dunia pendidikan merupakan jawaban terbaik dibandingkan polemik yang hanya bersifat sementara.

Ia menilai, pemilihan rektor merupakan momentum penting untuk menentukan arah dan masa depan UPR sebagai perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah. Karena itu, proses demokrasi akademik harus dijaga agar tetap berlangsung secara sehat, bermartabat, dan penuh rasa saling menghormati.

"Saya tidak ingin pemilihan ini meninggalkan perpecahan. Setelah proses ini selesai, kita semua tetap keluarga besar UPR. Kita tetap bertemu di kampus yang sama dan bekerja untuk tujuan yang sama," katanya.

Menurut Prof. Bhayu, tantangan yang dihadapi UPR ke depan jauh lebih besar dibandingkan perbedaan pilihan dalam pemilihan rektor. Peningkatan kualitas lulusan, penguatan riset, inovasi, hingga kontribusi nyata bagi pembangunan daerah membutuhkan kekompakan seluruh elemen kampus.

Karena itu, ia mengajak seluruh civitas akademika untuk menjaga suasana tetap kondusif selama proses pemilihan berlangsung serta mengedepankan etika akademik dalam setiap perbedaan pandangan.

"Saya berharap proses ini berjalan damai, sejuk, dan penuh penghormatan satu sama lain. Siapa pun yang nantinya terpilih, tujuan kita tetap sama, yaitu menjadikan UPR semakin unggul dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi Kalimantan Tengah dan Indonesia," tuturnya.

Di tengah berbagai dinamika yang mengiringi pesta demokrasi akademik tersebut, Prof. Bhayu memilih tetap konsisten menjalankan aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Baginya, menjaga persatuan dan marwah UPR jauh lebih penting daripada terlibat dalam polemik yang berpotensi meninggalkan luka di lingkungan kampus. (*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard