seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

BMKG Ingatkan Potensi Kabut Asap Mulai Ancam Kotim

by Redaksi - Tanggal 19-07-2026,   jam 16:03:53
Rekap data karhutla di Kotim Rekap data karhutla di Kotim

SB, SAMPIT - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kabut asap yang mulai mengancam Kota Sampit. Kondisi ini dipicu dominasi angin dari arah tenggara yang berpotensi membawa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menuju kawasan perkotaan.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono, mengatakan saat ini arah angin dominan bertiup dari wilayah selatan Kotim. Apabila jumlah titik karhutla di wilayah tersebut terus bertambah, maka asap berpotensi bergerak hingga ke Kota Sampit dan memengaruhi kualitas udara.

"Sekarang arah angin dominan angin tenggara, angin datang dari arah selatan Kotim. Jika karhutla banyak terjadi di selatan, kemungkinan besar arah asap akan terbawa ke Kota Sampit. Itu yang kita takutkan, sehingga dampaknya bisa terasa di Kota Sampit," ujar Mulyono, Minggu (19/7/2026).

Menurutnya, pola tersebut bukan hal baru. Berdasarkan pengalaman pada musim kemarau di tahun-tahun sebelumnya, kabut asap umumnya mulai terasa pada malam hingga pagi hari, kemudian berangsur menghilang menjelang siang.

Mulyono menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh perubahan kecepatan angin. Pada siang hari angin cenderung bertiup lebih kencang sehingga asap lebih mudah berpindah dari lokasi kebakaran. Sebaliknya, saat malam hari kecepatan angin melemah sehingga asap berkumpul dan bertahan di suatu wilayah.

"Kalau anginnya kencang, kemungkinan besar asap itu akan terbawa keluar dari titik karhutla. Apalagi sekarang angin timuran lebih kencang, kalau karhutla di selatan, asap akan terbawa ke Kota Sampit atau ke daerah utara," jelasnya.

Ia menambahkan, minimnya pergerakan udara pada malam hari menyebabkan asap lebih mudah terakumulasi di permukaan sehingga kualitas udara berpotensi menurun.

Meski demikian, kondisi tersebut dapat berubah apabila terbentuk awan konvektif yang memicu peningkatan kecepatan angin.

"Kalau ada awan-awan konvektif maka angin akan kencang lagi, sehingga posisi asap bisa bergerak. Kalau malam hari awan-awan sudah berkurang, jadi kabut asap memang cenderung muncul pada malam sampai pagi dan menjelang siang mulai hilang," ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan data BMKG selama 24 jam terakhir, terdeteksi delapan titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan menengah di wilayah Kotim. Titik panas tersebut tersebar di empat kecamatan, yakni Baamang sebanyak empat titik, Kota Besi dua titik, Teluk Sampit satu titik, dan Antang Kalang satu titik.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan kualitas udara, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kabut asap mulai meningkat akibat meluasnya karhutla di wilayah Kotawaringin Timur. (f1/sb)