Pemadaman Bergilir Ganggu Distribusi Air Bersih di Kotim, Perumdam: Pipa Kosong hingga 4 Hari
SB, SAMPIT – Pemadaman listrik bergilir di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berdampak serius terhadap pelayanan air bersih, terutama bagi pelanggan di wilayah selatan. Gangguan pasokan listrik membuat proses produksi hingga distribusi air Perumdam Tirta Mentaya tidak dapat berjalan maksimal.
Direktur Perumdam Tirta Mentaya Kotim, Ismanadi, mengatakan seluruh sistem produksi air bergantung pada pasokan listrik. Saat listrik padam, generator dan pompa distribusi ikut terganggu sehingga penyaluran air ke pelanggan tidak berjalan normal.
"Yang pasti dampaknya generator kami terhambat beroperasi. Akibatnya distribusi air ke wilayah selatan terganggu, termasuk pengambilan air baku dari Sungai Bagendang maupun Sungai Sampit," ujar Ismanadi usai rapat kerja bersama Komisi II DPRD Kotim, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, distribusi air menuju Samuda mengandalkan pompa pendorong bertenaga listrik. Jarak yang cukup jauh dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Lepet menuju Samuda membuat dampak pemadaman semakin terasa.
Menurutnya, pemadaman listrik selama satu jam saja dapat menyebabkan jaringan pipa kosong dan terisi udara. Akibatnya, proses normalisasi distribusi air membutuhkan waktu cukup lama.
"Padam listrik satu jam saja bisa membuat pipa kosong dan terisi udara. Untuk mengembalikan jaringan hingga normal kembali bisa memerlukan waktu sampai empat hari," jelasnya.
Dalam kondisi normal, kata Ismanadi, Perumdam hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit untuk menghidupkan generator saat listrik padam. Namun tingginya intensitas pemadaman belakangan ini membuat upaya tersebut tidak lagi efektif.
"Seharusnya saat listrik padam kami hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit untuk menghidupkan generator agar distribusi tetap berjalan. Tetapi karena kondisi yang ada, dampaknya sangat besar, apalagi intensitas pemadaman di wilayah selatan cukup sering terjadi," katanya.
Untuk mengurangi dampak terhadap pelanggan, Perumdam mengoptimalkan distribusi air menggunakan mobil tangki. Langkah itu telah dilakukan hampir sebulan terakhir, bahkan sebelum status tanggap darurat ditetapkan maupun adanya dukungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Namun, pelayanan darurat masih terkendala keterbatasan armada. Saat ini Perumdam hanya memiliki dua mobil tangki, masing-masing disiagakan di Sampit dan wilayah selatan.
"Kami hanya memiliki dua armada. Satu tetap siaga di Sampit dan satu lagi kami tempatkan di wilayah selatan. Kalau ada kebutuhan yang sifatnya mendesak langsung kami kirim," ungkapnya.
Ismanadi berharap BPBD dapat membantu penyediaan bahan bakar minyak (BBM) untuk mendukung operasional generator dan mobil tangki selama pemadaman listrik masih berlangsung.
Ia menambahkan, hingga kini seluruh biaya tambahan akibat meningkatnya konsumsi BBM masih ditanggung Perumdam melalui anggaran operasional perusahaan.
"Kalau listrik sering mati, otomatis penggunaan BBM meningkat. Sampai sekarang belum ada anggaran khusus dari pemerintah. Semua masih kami tanggung sendiri agar pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan," pungkasnya. (f1/sb)