Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotim terus terjadi, kabut asap pun mulai tebal. (FOTO:ISTIMEWA)
SB, SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satu opsi yang disiapkan adalah mengubah jam belajar sekolah jika kualitas udara mulai memburuk.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, kesehatan peserta didik menjadi perhatian utama pemerintah selama musim kemarau yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.
"Kalau kondisi masih memungkinkan, kegiatan belajar tetap berjalan. Tetapi apabila asap mulai pekat sejak pagi, teknisnya akan dikoordinasikan oleh Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan," ujar Halikinnor, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, sekolah bisa saja memundurkan jam masuk apabila kondisi udara tidak lagi aman bagi siswa dan guru. Kebijakan tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara di lapangan.
"Misalnya pagi sudah berkabut dan kualitas udara tidak baik, jam sekolah bisa dimundurkan. Yang terpenting kesehatan anak-anak tetap terjaga," katanya.
Selain menyiapkan langkah di sektor pendidikan, Pemkab Kotim juga memperkuat kesiapsiagaan penanganan karhutla. Berbagai unsur telah dilibatkan, mulai dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, hingga perangkat daerah lainnya.
Halikinnor menyebut armada tangki air dari berbagai instansi juga disiapkan untuk membantu pemadaman kebakaran maupun memenuhi kebutuhan air masyarakat apabila diperlukan.
"Kita akan berusaha semaksimal mungkin agar kebakaran tidak meluas dan dampaknya bisa diminimalkan," tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat ikut mencegah karhutla dengan tidak membuka lahan menggunakan api serta segera melaporkan jika menemukan titik kebakaran.
Menurut Halikinnor, kerja sama pemerintah dan masyarakat menjadi kunci menjaga Kotim tetap aman selama musim kemarau. (f1/sb)