seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Karhutla Kotim Memburuk, BPBD Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

by Redaksi - Tanggal 07-08-2026,   jam 10:59:01
Petugas berjibaku memadamkan kobaran api karhutla yang begitu besar. (FOTO:ISTIMEWA) Petugas berjibaku memadamkan kobaran api karhutla yang begitu besar. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menjadi perhatian. Selain mencatat jumlah titik panas tertinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng), kualitas udara di wilayah ini sempat masuk kategori berbahaya akibat tingginya kadar partikulat halus (PM2,5).

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penderita asma, dan masyarakat dengan penyakit penyerta.

"Kalau melihat kualitas udara dan jarak pandang, memang belum disarankan banyak beraktivitas di luar ruangan. Kalau terpaksa keluar, gunakan masker," ujar Multazam, Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, salah satu lokasi yang menjadi perhatian utama adalah Desa Camba. Dalam beberapa hari terakhir, kawasan tersebut menjadi penyumbang titik panas cukup tinggi dan masuk dalam pembahasan Satgas Karhutla.

"Beberapa hari terakhir Kotim menjadi daerah dengan hotspot tertinggi di Kalteng. Desa Camba menjadi salah satu lokasi yang paling kami fokuskan," katanya.

Berdasarkan pemantauan BMKG hingga pukul 07.00 WIB, Kotim tercatat memiliki 159 titik panas. Jumlah tersebut terdiri dari 143 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang dan 16 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Sebaran titik panas terbanyak berada di Kecamatan Kota Besi sebanyak 68 titik, Camba 64 titik, Mentawa Baru Ketapang 26 titik, dan Seranau 20 titik.

Selain ancaman kebakaran, kualitas udara juga sempat mengalami penurunan. Data pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2,5 mencapai sekitar 398 mikrogram per meter kubik pada Rabu pagi.

"Kalau angka itu masuk kategori berbahaya. Namun setelah matahari muncul dan angin meningkat, kondisi udara mulai membaik. Tapi bukan berarti aman sepenuhnya, karena kondisi bisa berubah kembali," jelas Multazam.

Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan kualitas udara mulai membaik pada siang hari dengan angka sekitar 125.

"Tadi pagi memang tinggi, sekitar 390-an. Namun siang hari turun menjadi sekitar 125 dan masih tergolong sehat. Yang perlu diwaspadai apabila sudah di atas 225," ujarnya.

Untuk mempercepat penanganan karhutla, Satgas telah mengusulkan operasi water bombing di Desa Camba. Namun pelaksanaan masih tertunda karena kondisi jarak pandang belum memenuhi standar keselamatan penerbangan.

"Kami sudah mendapat persetujuan water bombing. Tetapi karena visibility tidak memungkinkan, helikopter kembali ke Palangka Raya. Kami masih menunggu arahan posko provinsi," kata Multazam.

Sambil menunggu dukungan udara, BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni, dan unsur Satgas Karhutla terus melakukan pemadaman melalui jalur darat.

Multazam mengatakan, pengalaman pemadaman di sejumlah lokasi menunjukkan upaya personel darat masih menjadi langkah paling efektif untuk mengendalikan api.

Ia juga mengingatkan masyarakat, khususnya pemilik kebun dan lahan, agar aktif melakukan pencegahan dengan memanfaatkan sumber air yang tersedia.

"Kalau sumur bor masih bisa digunakan, manfaatkan untuk pembasahan lahan. Ini lebih efektif agar api tidak semakin meluas," pungkasnya. (f1/sb)