seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Peternak Ayam Petelur Kotim Menjerit, Harga Telur Turun Pakan Makin Mahal

by Redaksi - Tanggal 07-08-2026,   jam 12:14:02
Kondisi peternak ayam petelur di Baamang Sampit Kondisi peternak ayam petelur di Baamang Sampit

SB, SAMPIT – Usaha peternakan ayam petelur di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai tertekan. Peternak kini menghadapi kondisi sulit setelah harga telur di tingkat kandang turun, sementara biaya pakan terus naik.

Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim, Ari Pramana, mengatakan kondisi tersebut membuat peternak tidak lagi mengejar keuntungan, melainkan hanya berusaha mempertahankan usaha agar tetap berjalan.

"Saat ini kami menjual telur bukan lagi untuk mencari untung, tetapi agar telur tidak menumpuk dan membusuk. Kalau tidak dijual, kerugiannya justru lebih besar," kata Ari, Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, harga telur yang diterima peternak saat ini hanya berkisar Rp22 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram. Nilai tersebut berada di bawah harga acuan pemerintah yang mencapai Rp26.500 per kilogram.

Di sisi lain, harga pakan ayam terus mengalami kenaikan. Jika sebelumnya harga pakan masih berada di kisaran Rp375 ribu hingga Rp385 ribu per karung ukuran 50 kilogram, kini sudah menembus sekitar Rp440 ribu per karung.

"Kenaikan pakan sangat terasa. Padahal pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi, sekitar 70 persen dari total biaya usaha," ujarnya.

Ari menjelaskan, ketergantungan terhadap pasokan pakan dari luar daerah menjadi salah satu penyebab peternak sulit mengendalikan biaya produksi. Untuk wilayah Kalimantan, tambahan biaya distribusi juga membuat beban semakin besar.

"Kami berharap harga telur bisa kembali stabil sesuai harga acuan. Kami tidak meminta harga tinggi, hanya ingin usaha ini tetap bisa berjalan," ungkapnya.

Ia menyebut, pihaknya sudah menyampaikan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Kotim dan berkoordinasi dengan Satgas Pangan Polres Kotim. Namun, peternak masih menunggu langkah nyata untuk mengatasi persoalan harga telur dan pakan.

Selain menjaga kestabilan harga, peternak juga berharap pabrik pakan yang telah dibangun di Kotim segera beroperasi. Menurut Ari, keberadaan pabrik tersebut dapat membantu menekan biaya produksi karena mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.

"Kalau pabrik pakan bisa segera berjalan, tentu akan sangat membantu peternak," katanya.

Ari mengingatkan, jika kondisi ini terus berlangsung tanpa solusi, keberlangsungan usaha peternak ayam petelur di Kotim akan semakin terancam.

"Kalau terus seperti ini, kami tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Peternak bisa terpaksa mengurangi produksi bahkan berhenti usaha," pungkasnya. (f1/sb)