seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Ruang Iklan Tersedia

Kemarau Hantam Petani Sayur Sampit, Panen Anjlok

by Redaksi - Tanggal 02-09-2026,   jam 13:46:10
Muhammad Hasan Muhammad Hasan

SB, SAMPIT – Musim kemarau lebih dari dua bulan mulai memukul petani sayur di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Keterbatasan air membuat tanaman sulit berkembang dan hasil panen turun drastis.

Muhammad Hasan, salah seorang petani sayur di Sampit, mengaku harus bekerja lebih keras hanya untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. Waktu penyiraman yang biasanya sekitar satu jam kini bisa mencapai dua jam.

“Sudah dua bulan lebih terasa dampaknya. Hasilnya tidak maksimal. Biasanya bisa Rp500 ribu per hari, sekarang sekitar Rp200 ribu,” ujar Hasan, Rabu (2/9/2026).

Di lahannya, Hasan menanam berbagai jenis sayuran seperti kangkung, sawi, bayam, tomat dan cabai. Namun, kemarau membuat produktivitas tanaman menurun. Kangkung yang biasanya bisa dipanen hingga 100 ikat, kini hanya sekitar 40-50 ikat.

“Kalau cuaca bagus dan hujan normal bisa 100 ikat. Sekarang paling 40 atau 50 ikat,” katanya.

Persoalan tidak berhenti pada turunnya hasil panen. Hasan juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bensin guna mengoperasikan pompa air.

“Sekarang pendapatan sekitar Rp100 ribu sampai Rp125 ribu. Itu masih dipotong bensin dan waktu untuk menyiram juga lebih lama,” ungkapnya.

Untuk bertahan, Hasan membuat sumur sendiri. Sayangnya, debit air dari sumur tersebut sangat terbatas. Setelah digunakan sekitar satu jam, air langsung habis dan ia harus menunggu hingga sumber air kembali terisi.

“Kalau dipakai menyiram satu jam, airnya habis. Jadi harus menunggu lagi sampai airnya terkumpul,” jelasnya.

Ancaman lain juga menghantui lahan pertaniannya. Kondisi lahan yang kering membuat Hasan khawatir kebakaran lahan merembet ke perkebunannya.

“Sudah satu minggu ini berjaga-jaga, takut api masuk ke sini,” ujarnya.

Ia bahkan rutin memantau lahan sejak sekitar pukul 09.00 WIB hingga sore hari. Pada malam hari, lokasi tetap dicek secara berkala untuk memastikan tidak ada api yang mendekat.

“Kalau ada api kecil, sementara kami padamkan manual. Air juga terbatas, jadi harus hati-hati,” katanya.

Meski produksi anjlok, harga jual sayuran sejauh ini masih relatif stabil. Hasan berharap hujan segera turun agar sumber air kembali tersedia dan tanaman bisa tumbuh normal.

“Untuk sementara masih aman, tapi sedikit-sedikit. Kalau dipakai menyiram satu jam habis, setelah itu harus menunggu lagi. Mudah-mudahan hujan segera turun,” pungkasnya. (f1/sb)