Lewati ke konten utama
HUKUM

Massa Geruduk Kantor Kantor Pertamina, Soroti Antrean Panjang BBM di SPBU

Redaksi 14-09-2026, 17:05 WIB 2 menit baca
Puluhan massa ketika melaksanakan aksi demo di depan kantor Pertamina PT Patra Niaga. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
Puluhan massa ketika melaksanakan aksi demo di depan kantor Pertamina PT Patra Niaga. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)

SB, PALANGKA RAYA – Puluhan orang yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Resah mendatangi Kantor Pertamina PT Patra Niaga Kalimantan Tengah (Kalteng) di Jalan RTA Milono, Kota Palangka Raya, Senin (14/9/2026) sore.

Kedatangan massa tersebut sebagai bentuk kekecewaan terhadap kondisi distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang dinilai masih bermasalah. Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kalimantan Tengah, khususnya di wilayah Palangka Raya.

Antrean kendaraan bahkan disebut masih mengular di sejumlah SPBU. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan masyarakat yang membutuhkan BBM untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Massa mempertanyakan kondisi tersebut karena di satu sisi masyarakat kerap mendapat informasi bahwa ketersediaan BBM dalam kondisi aman. Namun, kondisi di lapangan justru menunjukkan adanya antrean panjang dan kesulitan masyarakat mendapatkan BBM bersubsidi.

Aliansi Masyarakat Resah juga mendesak Pertamina agar lebih terbuka mengenai ketersediaan BBM bersubsidi di setiap SPBU. Mereka meminta Pertamina menyampaikan secara transparan berapa jumlah kuota maupun stok BBM subsidi yang dialokasikan dan tersedia di masing-masing SPBU.

Menurut massa, keterbukaan informasi menjadi penting agar masyarakat mengetahui kondisi sebenarnya dan tidak terus dibuat bertanya-tanya mengenai penyebab antrean panjang yang terjadi.

“Jangan selalu mengatakan aman, tetapi kenyataannya di lapangan masih terjadi kelangkaan,” menjadi salah satu sorotan utama massa dalam aksi tersebut.

Mereka menilai persoalan antrean dan sulitnya memperoleh BBM bersubsidi tidak boleh hanya dijawab dengan pernyataan bahwa stok dalam kondisi aman. Sebab, masyarakat membutuhkan kepastian mengenai ketersediaan BBM sekaligus penjelasan mengenai distribusi dan kuota di lapangan.

Aliansi Masyarakat Resah berharap Pertamina memberikan penjelasan secara terbuka mengenai persoalan tersebut serta mengambil langkah konkret untuk mengatasi antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU.

Massa juga meminta agar persoalan ketersediaan BBM bersubsidi tidak dianggap sebagai persoalan biasa, mengingat dampaknya langsung dirasakan masyarakat, terutama pengguna kendaraan yang membutuhkan BBM untuk bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard