Lewati ke konten utama
HUKUM

Enam Bangunan SMAN 1 Cempaga Terbakar, Diduga Dipicu Ledakan Panel Surya

Redaksi 27-09-2026, 12:57 WIB 3 menit baca
Tampak sisa puing bangunan SMAN 1 Cempaga usai dilalap si jago merah. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
Tampak sisa puing bangunan SMAN 1 Cempaga usai dilalap si jago merah. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Kebakaran hebat menghanguskan sebagian kawasan SMA Negeri 1 Cempaga di Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (27/9/2026) dini hari.

Api dilaporkan mulai berkobar sekitar pukul 02.30 WIB. Kobaran api melahap sejumlah fasilitas utama sekolah hingga membuat aktivitas pendidikan terancam terganggu.

Sedikitnya enam bangunan terdampak dalam kejadian tersebut. Di antaranya ruang kepala sekolah, ruang wakil kepala sekolah, ruang guru dan tiga ruang belajar.

Bupati Kotim Halikinnor bersama Wakil Bupati Irawati, Pj Sekda dan sejumlah kepala perangkat daerah langsung mendatangi lokasi untuk melihat kondisi sekolah sekaligus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

Halikinnor mengatakan, berdasarkan informasi awal dari kepolisian, kebakaran bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Api diduga muncul akibat gangguan pada sistem panel surya atau solar cell yang terpasang di sekolah.

"Jadi hari ini saya bersama rombongan mengecek langsung musibah yang terjadi. Saya mendapat laporan sekitar pukul 02.30 terjadi kebakaran di SMA Negeri Cempaga ini," kata Halikinnor.

Menurutnya, keterangan sementara dari pihak kepolisian mengarah pada panel surya sebagai sumber awal kebakaran.

"Ini bukan dari karhutla. Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, Polsek Cempaga, terindikasi dari panel surya yang kemungkinan korsleting sehingga mengakibatkan kebakaran," ujarnya.

Meski sejumlah bangunan terbakar, Halikinnor memastikan masih ada gedung yang dapat dimanfaatkan. Karena itu, proses pembelajaran tidak harus dihentikan, tetapi kemungkinan dilakukan dengan pengaturan penggunaan ruang dan jadwal.

"Gedung-gedung yang ada masih bisa digunakan. Mungkin sistemnya diatur jamnya, karena masih cukup untuk proses belajar mengajar," jelasnya.

Persoalan paling mendesak saat ini adalah hilangnya ruang guru dan ruang kepala sekolah. Untuk sementara, salah satu ruang laboratorium akan difungsikan sebagai kantor sementara sehingga aktivitas para guru tetap dapat berlangsung.

"Yang mendesak karena ruang guru dan ruang kepala sekolah terbakar. Tadi masih ada gedung laboratorium yang bisa ditempatkan sebagai ruang kantor sementara. Hanya dibutuhkan meja dan kursi untuk guru-guru," katanya.

Halikinnor mengatakan kebutuhan meja dan kursi tersebut sudah dilaporkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Ia berharap bantuan dapat segera dikirim sehingga guru tidak terlalu lama bekerja tanpa ruang kantor.

"Saya sudah laporkan dan mudah-mudahan hari ini bisa didroping, paling lambat besok meja dan kursinya untuk guru-guru," ujarnya.

Selain penanganan sementara, pemerintah daerah juga mulai memikirkan pembangunan kembali bangunan sekolah yang terbakar. Halikinnor berharap fasilitas tersebut dapat dimasukkan dalam pembahasan anggaran 2027.

"Pembahasan 2027 masih belum selesai. Mudah-mudahan tahun depan langsung bisa dibangun kembali. Apalagi lokasinya di pinggir jalan negara, jadi sudah saya sampaikan langsung kepada Pak Gubernur," ungkapnya.

Camat Cempaga Agustiawany membenarkan kebakaran terjadi sekitar pukul 02.30 WIB. Berdasarkan informasi awal yang diterima, sumber api diduga berkaitan dengan perangkat solar cell yang berada di sekolah.

"Kronologinya diperkirakan pukul 02.30. Diduga berasal dari ledakan solar cell. Kerugiannya kurang lebih enam gedung yang terbakar," katanya.

Menurutnya, pemerintah kecamatan bersama pemerintah daerah dan pihak sekolah langsung berkoordinasi agar kejadian tersebut tidak sampai menghentikan kegiatan belajar mengajar.

"Tadi sudah koordinasi dengan Bapak Bupati dan Ibu Wabup. Mereka akan segera mengantisipasi hal ini agar anak-anak bisa belajar lagi dan guru-guru di SMA 1 Kecamatan Cempaga juga bisa bekerja sesuai tugas mereka," jelasnya.

Sementara itu, Kapolsek Cempaga AKP HR Tri Diantoro mengatakan dugaan awal mengenai sumber api diperoleh dari keterangan sejumlah saksi yang berada di sekitar lokasi.

"Menurut keterangan saksi-saksi, awalnya mereka mendengar adanya ledakan di ruang Wakil Kepala Sekolah. Di situ ada baterai solar cell dan dimungkinkan itu yang menjadi penyebab kebakaran," katanya.

Polisi memastikan kebakaran tersebut tidak berkaitan dengan karhutla yang kemudian merambat ke kawasan sekolah.

"Memang kebakaran ini bukan dari karhutla, bukan rambatan kebakaran lahan yang kemudian merambat ke sekolah. Tapi dugaan sementara berasal dari ledakan di ruangan tersebut," tegasnya.

Keterangan awal tersebut diperoleh dari penjaga sekolah dan warga yang tinggal di sekitar lokasi. Polisi masih melakukan penanganan serta pendalaman untuk memastikan penyebab pasti kebakaran dan menghitung dampak kerugian akibat kejadian tersebut.

Pemerintah daerah kini memprioritaskan agar kegiatan belajar siswa dan aktivitas guru tetap berjalan, sembari menyiapkan langkah perbaikan terhadap fasilitas sekolah yang rusak akibat kebakaran. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard