Karhutla Sulit Dijinakkan di Camba dan Ganepo, Pemkab Kotim Perkuat Penanganan
SB, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, masih menjadi pekerjaan berat bagi pemerintah daerah. Di tengah mulai berkurangnya titik api di kawasan perkotaan, kebakaran cukup besar di Desa Camba, Kecamatan Ketapang, dan Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, masih membutuhkan penanganan serius.
Sulitnya akses menuju lokasi kebakaran serta terbatasnya pasokan air menjadi kendala utama petugas dalam menjinakkan api. Bahkan, sumur-sumur yang telah dibangun untuk mendukung pemadaman belum mampu menyediakan air secara berkelanjutan.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim memperpanjang status tanggap darurat karhutla hingga 30 Oktober 2026. Kebijakan ini diambil menyusul kondisi cuaca yang masih kering, sementara curah hujan diprakirakan masih sangat rendah.
Bupati Kotim Halikinnor menegaskan, Desa Camba dan Desa Ganepo menjadi perhatian khusus pemerintah daerah karena kebakaran di kedua wilayah tersebut masih cukup besar.
“Untuk perkotaan, alhamdulillah, walaupun masih ada titik api, tetapi sudah tidak banyak. Namun, ada dua titik yang saat ini cukup besar, yakni di Desa Camba dan Desa Ganepo. Ini yang menjadi perhatian khusus kami,” kata Halikinnor, Senin (19/10/2026).
Menurut Halikinnor, persoalan utama yang dihadapi petugas bukan hanya luasnya area kebakaran, melainkan juga keterbatasan sumber air di sekitar lokasi. Posisi titik api yang berada jauh di dalam kawasan hutan turut menyulitkan petugas menjangkau lokasi dan memenuhi kebutuhan air untuk pemadaman.
Pemkab Kotim sebenarnya telah membangun sejumlah sumur untuk membantu penanganan karhutla. Namun, kapasitas sumber air tersebut belum memadai. Air yang tersedia bisa langsung habis ketika disedot untuk pemadaman, sehingga petugas terpaksa menunggu hingga sumber air terisi kembali.
“Kendala utama kita adalah air. Kita sudah membangun sumur-sumur, tetapi tidak mencukupi. Misalnya, ada airnya, begitu sekali disedot, sudah habis. Kita harus menunggu lagi,” ungkapnya.
Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam upaya mengendalikan kebakaran di Desa Camba dan Desa Ganepo. Ketersediaan air yang terbatas membuat proses pemadaman harus disesuaikan dengan kemampuan sumber air di lapangan.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Pemkab Kotim berencana menambah personel dan sarana pendukung pemadaman. Penambahan selang serta penyediaan embung portabel menjadi bagian dari upaya memperkuat dukungan operasional di lokasi kebakaran.
Selain itu, evaluasi terhadap efektivitas peralatan dan strategi pemadaman akan dilakukan secara berkala. Langkah ini diperlukan agar kebutuhan petugas dapat diketahui dan penanganan kebakaran bisa disesuaikan dengan kondisi medan serta keterbatasan sumber air.
Perpanjangan status tanggap darurat hingga 30 Oktober 2026 diharapkan mendukung upaya penanganan karhutla yang masih berlangsung. Dengan dua lokasi kebakaran menjadi prioritas, pemerintah daerah berupaya memperkuat kesiapan personel dan peralatan agar pemadaman berjalan lebih optimal.
Di tengah cuaca kering dan rendahnya curah hujan, Desa Camba dan Desa Ganepo masih menjadi titik perhatian utama. Pemenuhan kebutuhan air dan dukungan sarana di lapangan menjadi faktor penting dalam menghadapi kebakaran yang hingga kini masih sulit dipadamkan. (f1/sb)