38 Hari Sampit Terisolasi Jalur Udara, Kabut Asap Lumpuhkan Penerbangan
SB, SAMPIT – Kabut asap karhutla membuat Bandara Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), seolah mati suri. Selama 38 hari, sejak 14 September hingga 22 Oktober 2026, tak satu pun penerbangan beroperasi akibat jarak pandang yang tak memenuhi standar keselamatan.
Kondisi ini bukan sekadar mengganggu jadwal perjalanan. Mobilitas masyarakat terhambat, aktivitas maskapai terhenti, dan pelaku usaha di kawasan bandara ikut kehilangan pelanggan. Sampit pun kehilangan salah satu jalur transportasi pentingnya untuk bepergian melalui udara.
Kepala Kantor UPBU Kelas II Haji Asan Sampit, Abdul Haris, mengatakan pembatalan penerbangan masih terus berlangsung karena jarak pandang di sekitar bandara terlalu rendah untuk menjamin keselamatan penerbangan.
“Sejak 14 September penerbangan sudah mengalami pembatalan sampai sekarang. Tidak ada pergerakan sama sekali di bandara kami karena jarak pandang sangat rendah,” ujarnya, Kamis (22/10/2026).
Parahnya, jarak pandang yang biasanya berada pada kisaran 800 hingga 1.000 meter bahkan bisa anjlok menjadi hanya 80–100 meter. Padahal, pendaratan pesawat di Bandara Haji Asan Sampit umumnya membutuhkan jarak pandang sekitar 2.400 meter. Selisih yang jauh ini membuat penerbangan belum memungkinkan dilakukan.
Dampaknya juga merembet ke sektor ekonomi. Tanpa kedatangan dan keberangkatan penumpang, tenant yang berjualan di kawasan bandara kehilangan calon pembeli. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang bersumber dari aktivitas bandara juga ikut terdampak.
“Karena tidak ada aktivitas, tidak ada yang berkunjung. Ini juga berdampak terhadap tenant-tenant yang ada di bandara,” jelas Abdul Haris.
Gangguan akibat kabut asap sebenarnya bukan hal baru bagi Sampit. Namun, penghentian penerbangan lebih dari sebulan kali ini menjadi pukulan berat bagi konektivitas udara Kotim. Hingga kini, pihak bandara belum bisa memastikan kapan pesawat kembali beroperasi karena semuanya bergantung pada hilangnya kabut asap dan pulihnya jarak pandang.
“Kami sangat berharap dalam waktu dekat asap tidak ada lagi di Sampit, sehingga bandara kami dapat beraktivitas kembali secara normal,” katanya.
Sembari menunggu kondisi membaik, masyarakat yang hendak bepergian menggunakan pesawat disarankan mempertimbangkan Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, setelah memastikan jadwal penerbangan tersedia. Sementara Bandara Iskandar di Pangkalan Bun dan Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya juga bisa dipertimbangkan dengan tetap memantau kondisi cuaca dan jarak pandang. Selama kabut asap belum mereda, kepastian kapan penerbangan Sampit kembali normal masih menjadi tanda tanya. (f1/sb)