Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Halikinnor Sebut Kabut Asap di Kota Sampit Diperparah Asap Kiriman

Redaksi 24-10-2026, 05:39 WIB 3 menit baca
Bupati Kotim H Halikinnor
Bupati Kotim H Halikinnor

SB, SAMPIT - Kabut asap yang menyelimuti wilayah perkotaan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dalam beberapa hari terakhir diduga tidak hanya berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar kota.

Asap kiriman dari sejumlah wilayah, seperti Ganepo, Seranau, Pulau Hanaut hingga Lampuyang di Kecamatan Teluk Sampit, turut memperparah kondisi, terutama pada pagi hari.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, titik api di kawasan perkotaan terus ditangani petugas setiap kali ditemukan. Namun, asap dari kebakaran di wilayah lain masih terbawa angin menuju Sampit sehingga kabut asap tetap pekat meskipun titik api di dalam kota mulai berkurang.

“Ini salah satu yang membuat kabut asap lebih tebal beberapa hari ini, terutama pada pagi hari. Ada juga asap kiriman dari arah Ganefo, kemudian Seranau di seberang, bahkan Pulau Hanaut. Terakhir, ada informasi lagi di daerah Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, terutama di pinggiran pantai Ujung Pandaran,” kata Halikinnor, Jumat (23/10/2026).

Menurutnya, kondisi geografis wilayah pesisir turut memengaruhi penyebaran asap. Angin yang bertiup kencang di kawasan pantai dapat membawa asap dari lokasi kebakaran hingga ke pusat kota, sehingga memperburuk kualitas udara di Sampit.

“Di sana merupakan daerah laut, otomatis anginnya kencang meniup asap. Akhirnya asap sampai ke daerah perkotaan. Itu yang membuat asap di perkotaan lebih pekat,” jelasnya.

Halikinnor menegaskan, pemerintah daerah bersama tim gabungan terus berupaya memadamkan karhutla di berbagai lokasi. Titik api di kawasan perkotaan disebut hampir seluruhnya dapat ditangani karena petugas segera bergerak ketika kebakaran muncul.

“Kalau api di kota ini sudah hampir habis, karena kalau muncul seperti ini langsung kita padamkan. Tetapi asap itu tetap ada, terutama kiriman-kiriman dari daerah yang jauh,” ujarnya.

Meski demikian, upaya pemadaman di sejumlah wilayah masih menghadapi kendala serius, terutama keterbatasan sumber air. Tim gabungan tetap bergerak siang dan malam, tetapi kondisi geografis dan jauhnya lokasi kebakaran membuat proses pemadaman tidak mudah.

Halikinnor menyebutkan, beberapa titik api berjarak hingga sekitar 10 kilometer dari sumber air. Kondisi tersebut menyulitkan petugas untuk memenuhi kebutuhan air selama proses pemadaman, terlebih di sejumlah lokasi tidak tersedia sumber air yang memadai.

“Tim kita tetap bergerak siang malam ke sana. Hanya memang kendalanya sama, di kota saja kita kesulitan air, di sana apalagi. Ada yang jaraknya sampai 10 kilometer, itu sangat susah sekali melakukan pemadaman. Belum lagi sumber air di lokasi kebakaran itu tidak ada,” ungkapnya.

Pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan tersebut, antara lain dengan membangun sumur bor dan memanfaatkan embung portabel sebagai penampung air.

Namun, upaya itu belum sepenuhnya efektif. Sejumlah sumur bor hanya mampu mengeluarkan air dalam waktu singkat sebelum kembali mengering.

Sementara itu, pendistribusian air menggunakan sistem embung portabel secara estafet juga terkendala jarak. Bahkan, penyaluran air hingga sekitar tiga kilometer belum mampu memenuhi kebutuhan pemadaman secara maksimal.

Kendati menghadapi keterbatasan sarana dan sumber air, pemerintah daerah bersama tim gabungan tetap berupaya mengendalikan kebakaran sesuai kondisi di lapangan. Halikinnor juga mengapresiasi kerja keras petugas serta partisipasi masyarakat dalam membantu penanganan karhutla.

“Kita tetap berusaha melakukan pemadaman semampu kita. Makanya, kita berterima kasih sekali kepada tim dan juga masyarakat yang turut membantu,” pungkasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard