Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Karhutla di Kotim Sulit Dipadamkan, Bupati Ungkap Tiga Kendala Utama

Redaksi 24-10-2026, 09:39 WIB 2 menit baca
Bupati Kotim, Halikinnor saat meninjau lokasi karhutla. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)
Bupati Kotim, Halikinnor saat meninjau lokasi karhutla. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menghadapi sejumlah tantangan serius. Mulai dari sumber air yang mengering akibat kemarau panjang, karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah, hingga lokasi kebakaran yang sulit dijangkau petugas.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, ketiga kendala tersebut menjadi faktor yang mempersulit proses pemadaman, terutama ketika api menjalar ke kawasan gambut dan jauh dari sumber air.

“Kemarau panjang menyebabkan banyak parit, saluran air, dan embung mengering. Bahkan, sejumlah sumur yang disiapkan untuk mendukung pemadaman juga tidak lagi memiliki persediaan air yang memadai,” kata Halikinnor, Sabtu (24/10/2026).

Menurutnya, minimnya ketersediaan air membuat petugas harus menghadapi tantangan lebih besar dalam mengendalikan api. Padahal, pasokan air menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung efektivitas pemadaman di lapangan.

Persoalan semakin rumit karena sebagian wilayah yang terbakar merupakan lahan gambut. Pada karakteristik tanah seperti ini, api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat merambat ke lapisan gambut di bawah tanah.

Akibatnya, api yang tampak padam belum tentu benar-benar mati. Bara yang tersisa di dalam tanah berpotensi memunculkan asap kembali sehingga penanganan harus dilakukan secara menyeluruh.

“Tanah kita ini tanah gambut. Jadi, api tidak hanya membakar bagian atas, tetapi bisa menjalar ke dalam tanah. Contohnya di ujung bandara, meskipun tanah sudah dibalik menggunakan ekskavator, asap masih terlihat. Penanganannya bahkan sudah berlangsung cukup lama,” ungkapnya.

Selain persoalan air dan karakteristik gambut, jarak lokasi kebakaran dari sumber air serta sulitnya akses menuju kawasan hutan turut menghambat upaya pemadaman.

Halikinnor menjelaskan, petugas darat harus menempuh jarak yang cukup jauh sambil membawa perlengkapan dan selang pemadam. Kondisi tersebut menyulitkan mobilisasi peralatan, terutama ketika titik api berada di kawasan yang sulit dilalui.

Di sisi lain, keterbatasan sarana pemadaman masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Kebutuhan peralatan seperti selang dan mesin alkon atau pompa air juga tidak selalu mudah dipenuhi ketika diperlukan.

Kondisi ini, menurut Halikinnor, menunjukkan pentingnya memperkuat kesiapsiagaan sebelum memasuki periode rawan karhutla. Ketersediaan peralatan dan dukungan operasional perlu dipastikan sejak awal agar petugas dapat bergerak lebih cepat ketika kebakaran terjadi.

“Ini menjadi bukti bahwa kita masih perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi karhutla. Peralatan harus dipersiapkan jauh-jauh hari, bukan ketika kebakaran sudah meluas,” pungkasnya.

Pemerintah daerah pun menghadapi tantangan untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan karhutla, mulai dari memastikan kesiapan sarana pemadaman hingga meningkatkan kemampuan petugas menjangkau titik api. Langkah antisipasi sejak dini menjadi penting agar kebakaran tidak semakin meluas dan dampaknya terhadap masyarakat maupun lingkungan dapat ditekan. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard