Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Malam Puncak Festival Habaring Hurung, Bupati: Kegiatan Ini Daya Tarik Wisatawan

Redaksi 11-03-2023, 09:18 WIB 1 menit baca
Malam puncak Festival Habaring Hurung di Taman Kota Sampit. (FOTO:ABU)
Malam puncak Festival Habaring Hurung di Taman Kota Sampit. (FOTO:ABU)

SB, SAMPIT - Malam puncak Festival Habaring Hurung dengan tema Aktualisasi Kearifan Lokal dan Warisan Budaya, dengan Semangat Persatuan Gotong Royong Membangun Kotim Harati yang digelar di Taman Kota Sampit, Jumat (10/3/20203) malam dipadati masyarakat.

Yang mana acara tersebut adalah gagasan Bupati Kotim, H Halikinnor agar budaya lokal tidak tergerus oleh perkembangan teknologi yang begitu dengan perkembangan zaman sekarang ini.

Acara yang berlangsung dari tanggal 7 Maret sampai 11 Maret 2023 tersebut dibuka langsung oleh Bupati Kotim.

Diacara penutupan festival tersebut dalam sambutan Bupati yang dibacakan oleh Sekda Fajrurrahman mengatakan, dirinya dengan dibantu wakil bupati dan para OPD lainnya berupaya menata kembali pembangunan sektor unggulan termasuk sektor pariwisata dan kebudayaan yang dimiliki oleh Kabupaten Kotawaringin Timur.

Sebab, katanya, Kotim sangat memiliki banyak potensi dalam segi senin dan budaya, bahkan selain itu juga memiliki wisata sehingga mampu menjadi daya tarik tersendiri untuk menuju kancah nasional dan bahkan internasional.

“Berbagai potensi yang kita miliki di daerah ini, sebagai salah satu alternatif destinasi wisata dan keragaman budaya. Seni budaya dan keindahan alamnya dan berbagai potensi lainnya, kiranya dapat menjadi daya tarik untuk dikunjungi dan berinvestasi,” terang Halikinnor dalam sambutan dibacakan Sekda.

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisita (Disbupar) Kabupaten Kotim, Ellena Rosie menyampaikan, dengan moto Habaring Hurung, harapan pemerintah daerah melalui Disbupar dapat berkolaborasi dengan seluruh insan penggiat seni dan budaya untuk masa yang akan datang.

“Tujuan pelaksaan kegiatan ini, sebagai wadah kelestarian kesenian dan kebudayaan tradisional agar tidak punah diera globalisasi. Sebagai sarana menemukan bibit-bibit penerus tradisi dan kebudayaan yang sudah ada kepada generasi muda. Sebagai upaya prefektip pencegahan masuknya  budaya asing yang dapat merusak tatanan kehidupan dan etika budaya yang ada,” terang Ellena Rosie dalam sambutannya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard