Lewati ke konten utama
DPRD Kalteng

Cegah Karhutla di Beberapa Wilayah Dengan Perkuat Sinergi

Redaksi 06-06-2023, 10:16 WIB 1 menit baca
Anggota DPRD Kalteng, Sengkon. (FOTO:ISTIMEWA)
Anggota DPRD Kalteng, Sengkon. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, PALANGKA RAYA - Di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) jumlah hotspot atau titik panas terus mengalami peningkatan, bahkan dibeberapa tempat seperti Kota Palangka Raya, beberapa waktu lalu ada lahan sudah mengalami kebakaran dan ini perlu mendapat perhatian serius dari Pemerintah.

Anggota DPRD Kalteng, Sengkon meminta, kepada pemda baik provinsi, kabupaten dan kota agar dapat memperkuat sinergi bersama dengan pihak-pihak lainnya dalam rangka mengantisipasi terjadinya karhutla agar tak semakin besar di wilayah Kalteng.

"Berdasarkan prediksi puncak musim kemarau itu terjadi pada Agustus mendatang, tapi menurut data dalam dua bulan terakhir ini hotspot karhutla mengalami peningkatan, tentu saja ini jadi ancaman bagi daerah," ucapnya, Selasa (06/06/ 2023).

Dalam upaya untuk mengantisipasi agar karhutla di Kalteng tidak semakin meluas dan membesar, pastinya pemda harus lebih meningkatkan kewaspadaan. Berbagai hal terkait untuk penanganan harus dipersiapkan dengan baik dan optimal agar karhutla dapat tertangani dengan baik.

"Kita pastinya tidak ingin terjadi kabut asap lagi di Kalteng seperti tahun-tahun dulu, jadi penanganan juga perlu dilakukan semenjak dini. Patroli di lapangan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan perlu dilakukan secara berkesinambungan," ujarnya.

Dia mengatakan, sebelum sampai pada puncak musim kemarau yang diprediksi Agustus mendatang akan terjadi, setiap daerah harus terus waspada terhadap ancaman karhutla, ketika ada diketahui hotspot segera lakukan pemadaman dengan maksimal.

"Siapkan sarana dan prasarana serta fasilitas pemadaman dengan baik, dan yang paling penting yaitu setiap daerah harus bisa menyiapkan anggaran penanganan bencana jangan sampai minimnya anggaran membuat penanganan jadi terkendala," tukasnya.

Musim kemarau tahun ini sambung Sengkon, berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana jika tahun lalu kemarau basah dan tahun ini merupakan kemarau kering dan tentunya kewaspadaan perlu ditingkatkan, agar tak terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (mda/ok)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard