Lewati ke konten utama
Pemprov Kalteng

Cegah Penyebaran Paham Radikal Terorisme Dengan Camping Keberagaman

Redaksi 18-07-2023, 01:55 WIB 1 menit baca
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kalteng, Kaspinor bersama peserta saat hadiri kegiatan. (FOTO:ISTIMEWA)
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kalteng, Kaspinor bersama peserta saat hadiri kegiatan. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, PALANGKA RAYA – Kegiatan Camping Keberagaman dalam Pencegahan Radikalisme Terorisme dengan Kampanye Damai Beragama dan Pembuatan Video Bahan Ajar Video Pendek “Berkolaborasi Untuk Damai Beragama di Sekolah” melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalteng Tahun 2023, dibuka secara resmi oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Kaspinor.

Gubernur Kalteng dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kaspinor mengatakan, pasca Pandemi Covid-19, masyarakat Indonesia sudah mulai bangkit dengan ditandai pulihnya aktivitas kehidupan masyarakat, pelayanan publik dan semakin membaiknya kehidupan ekonomi masyarakat.

“Pada saat yang sama pula, bangsa Indonesia juga dihadapkan pada persoalan Radikalisme, Terorisme yang masih mangganggu kebangkitan aktivitas masyarakat,”ucapnya di Aula Asrama Haji Al-Mabrur, Selasa (18/07/2023).

Dia mengungkapkan, Untuk hasil penelitian Indeks Potensi Radikalisme (IPR) di Kalteng, tahun 2020 adalah 16,6 persen, kemudian turun menjadi 12,0 persen, pada 2022, dengan Dimensi Pemahaman 15,4 persen, Dimensi Sikap 19,5 persen, dan Dimensi Tindakan 1,2 persen. Hasil indeks sebesar 12,0 pada kondisi tahun 2022 ini disebutkan Ketua FKPT Kalteng masuk kategori aman.

Kaspinor berharap dapat terjalin komunikasi dan koordinasi yang baik antara BNPT, FKPT dengan Pemerintah Daerah dan para pengelola lembaga pendidikan dalam rangka melakukan upaya-upaya pencegahan penyebaran paham radikal terorisme.

“Kita harapkan juga para Guru memiliki imun dan mampu melakukan kontra pemahaman terhadap paham radikal terorisme, Lembaga Pendidikan menjadi terlindungi dari pengaruh penyebaran paham radikal terorisme,” ujarnya.

Dia menambahkan, Para Guru lintas agama sudah terbiasa untuk berkolaborasi dalam proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas, menghasilkan kondisi yang damai dalam kehidupan keberagaman di Sekolah dan pada akhirnya Sekolah tidak terpengaruh oleh paham radikal terorisme. (mda/ok)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard